KEPULAUAN RIAU — Pengerahan teknologi pemadaman udara itu dipusatkan di Watugede, Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura, Probolinggo—wilayah yang disebut sebagai lokasi munculnya api baru dan menjadi pemicu meluasnya karhutla secara signifikan. Hingga Jumat siang, operasi drone diklaim berhasil memadamkan 17 titik api di area krisis.
"Upaya pemadaman terus kami lakukan dengan berbagai cara, salah satunya menggunakan drone water spray agar kobaran api bisa segera padam," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, Jumat (7/8/2026).
Lereng Terjal Jadi Hambatan, Petugas Andalkan Gepyok dan Sekat Bakar
Medan berupa lereng dan perbukitan terjal memaksa tim gabungan membagi strategi berdasarkan aksesibilitas. Di titik yang masih terjangkau kendaraan, pemadaman mengandalkan truk tangki air. Sementara untuk lokasi dengan akses terbatas, petugas berjibaku secara manual menggunakan gepyok—alat pemukul api tradisional—serta membuat sekat bakar untuk menahan laju perambatan api ke area lain.
"Pemadaman akan terus kami lakukan sampai seluruh titik api benar-benar padam. Di sisi lain, penyekatan di lokasi-lokasi rawan juga terus diperkuat agar kebakaran tidak semakin meluas," tegas Oemar.
Api Pertama Muncul di Lumajang, Menjalar ke Probolinggo dalam Empat Hari
Kebakaran pertama terdeteksi di tebing selatan Lembah Watangan, Blok Bantengan, Lumajang, pada Senin (3/8/2026) pukul 17.00 WIB. Area terdampak saat itu baru seluas 7,9 hektare. Dua hari berselang, luasannya naik menjadi 15 hektare sebelum akhirnya api merambat ke Desa Sariwani dan meledakkan total area terdampak hingga melampaui 86 hektare.
Pertambahan luasan yang drastis dalam kurun kurang dari sehari menunjukkan karakter api yang sangat agresif, diperparah kondisi vegetasi kering dan angin kencang di ketinggian.
Tiga Jalur Wisata Ditutup, Aktivitas Pendakian Dihentikan Sementara
Balai Besar TNBTS memperpanjang penutupan tiga akses masuk wisata Bromo sebagai langkah antisipasi: jalur Jemplang, Coban Trisula, dan Senduro. Penutupan berlaku hingga situasi dinyatakan kondusif, menyusul kekhawatiran keselamatan pengunjung serta kebutuhan untuk memastikan kelancaran operasi darurat.
Keputusan ini otomatis menghentikan aktivitas pendakian dan wisata di kawasan terdampak. Belum ada pernyataan resmi dari Balai Besar TNBTS mengenai estimasi waktu pembukaan kembali jalur tersebut atau potensi kerugian ekonomi dari penutupan ini.