KEPULAUAN RIAU — Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan bahwa faktor cuaca menjadi penghambat terbesar dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo. Dua unit helikopter milik BNPB, jenis PK-DAP dan PK-DAN, dikerahkan sejak Senin pagi untuk menjinakkan titik api yang kembali meluas.
Helikopter PK-DAP dengan kapasitas angkut 1.000 liter per sorti berhasil melakukan empat kali water bombing. Sementara itu, armada Super Puma PK-DAN yang berkapasitas lebih besar, yakni 4.000 liter per sorti, telah menyelesaikan lima kali rit pengambilan air dengan total 20 ribu liter sebelum akhirnya operasi dihentikan sementara.
Kabut dan Keterbatasan Malam Hari Jadi Kendala Utama
"Ini sudah 5 rit. Jadi total 20.000 liter. Namun pada kisaran pukul 14.00 WIB, karena kabut, bukan asap dari kebakaran, tapi karena kabut mereka harus kembali ke Malang," kata Emil dalam wawancara dengan CNN Indonesia, Senin (10/8) malam.
Emil menegaskan bahwa helikopter tidak dapat beroperasi pada malam hari. Kondisi ini membuat upaya pemadaman selepas matahari terbenam sepenuhnya bergantung pada kerja manual petugas di lapangan menggunakan alat tradisional bernama gepyok.
"Jadi helikopter tidak bisa beroperasi di malam hari. Sedangkan di malam hari ini kita juga harus terus memukul mundur api ya, api harus dipukul mundur," ujarnya.
Petugas darat yang tergabung dari BPBD Jawa Timur, BPBD kabupaten sekitar, serta unit pemadam kebakaran (Damkar) tetap dikerahkan untuk menahan laju api sepanjang malam. Emil juga memastikan ketersediaan alat pelindung diri bagi personel yang berhadapan langsung dengan paparan asap tebal.
Ledakan Titik Api Kalahkan Kecepatan Petugas Darat
Emil menjelaskan, kebakaran yang semula mulai terkendali di titik awal tiba-tiba meluas dengan cepat. Kondisi tersebut membuat jumlah personel di lapangan kewalahan dan tidak mampu mengimbangi kecepatan penyebaran api, sehingga pengerahan helikopter water bombing menjadi keniscayaan.
"Seperti tadi dalam kasus di Bromo Tengger Semeru ini, titik awal yang sebenarnya sudah mulai kondusif tetapi kemudian muncul api yang menyebabkannya jauh lebih cepat dan tidak bisa diimbangi dengan kesediaan personel saat itu sehingga mau tidak mau harus dibantu helikopter water bombing," jelasnya.
Pengerahan armada udara yang dikoordinasikan langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dinilai berhasil memitigasi perluasan area kebakaran yang berpotensi menjadi lebih masif. Hingga Senin sore, titik api di Puncak P-30 dilaporkan telah terkendali, sementara dua titik lainnya menunjukkan tren penurunan.
"Jadi sekarang P30 sudah terkendali fokus ke Dingklik juga sudah mulai tren turun tingkat penyebarannya dan Penanjakan juga sama," ujar Emil.
Penutupan Akses Wisata dan Operasi Gabungan
Kebakaran di kawasan Bromo bermula pada Senin (3/8) sekitar pukul 17.00 WIB. Meluasnya titik api membuat TNBTS menutup sementara seluruh akses wisata ke Gunung Bromo sejak Sabtu (8/8).
Operasi pemadaman kini melibatkan tiga helikopter, satu drone, dan delapan unit Damkar dari berbagai daerah. Tim gabungan terus melakukan pembasahan lahan baik dari udara maupun darat untuk mencegah api kembali menyala di tengah kondisi angin kencang dan cuaca panas yang mempercepat kekeringan vegetasi.