Pencarian

Devolver Digital Mau Delisting dari Bursa Efek, Valuasi Anjlok 96 Persen

Minggu, 09 Agustus 2026 • 01:41:01 WIB
Devolver Digital Mau Delisting dari Bursa Efek, Valuasi Anjlok 96 Persen
Suasana Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Devolver Digital yang digelar di Kepulauan Riau untuk menentukan nasib delisting perusahaan dari bursa efek.

KEPULAUAN RIAU — Devolver Digital, penerbit game indie yang dikenal lewat deretan judul eksentrik seperti Cult of the Lamb, Skate Story, dan Enter the Gungeon, resmi mengumumkan niatnya untuk menarik diri dari bursa efek. Langkah ini menjadi penutup periode sulit perseroan sebagai perusahaan publik yang sahamnya tergerus hingga 96,27 persen dalam tiga tahun terakhir.

Valuasi Anjlok dari Rp 15 Triliun ke Rp 750 Miliar

Saat initial public offering (IPO) pada 2021, Devolver Digital sempat dihargai di angka £694,6 juta atau sekitar Rp 15 triliun. Kini, kapitalisasi pasarnya menyusut menjadi hanya £34,64 juta, setara Rp 750 miliar—penurunan yang sangat kontras dengan kondisi industri game yang sedang lesu pasca-pandemi.

Dalam keterangan resmi kepada investor, manajemen menilai harga saham saat ini tidak mencerminkan nilai pasar perusahaan yang sebenarnya. Mereka juga menyebut tantangan untuk memenuhi ekspektasi pasar publik selama kondisi sektor yang sulit sebagai beban yang tidak relevan dengan urusan menerbitkan game.

Voting Penentu Nasib Devolver di 8 September

Keputusan akhir ada di tangan pemegang saham. Rapat umum tahunan akan digelar pada 8 September untuk memilih apakah perusahaan resmi delisting. Jika disetujui, Devolver Digital akan resmi menjadi perusahaan privat pada 16 September.

Manajemen memperkirakan langkah ini menghemat sekitar US$ 1,6 juta per tahun—dana yang sebelumnya habis untuk biaya kepatuhan regulasi bursa dan administrasi publik lainnya.

Fokus Jangka Panjang, Bukan Laporan Kuartalan

Juru bicara Devolver Digital menegaskan alasan di balik keputusan ini kepada Gamesindustry.biz. Menurutnya, status privat akan memungkinkan tim internal—khususnya divisi finansial, legal, dan eksekutif—untuk fokus penuh pada kesehatan perusahaan jangka panjang.

"Kami tidak lagi ingin menghabiskan energi untuk memenuhi tuntutan pasar publik yang tidak ada hubungannya dengan menjadi penerbit game yang sukses," ujar sang juru bicara.

Pernyataan ini menegaskan arah baru Devolver yang ingin lepas dari tekanan pelaporan keuangan kuartalan demi kebebasan mengambil risiko kreatif. Industri game global sendiri memang sedang berada dalam fase koreksi besar-besaran pasca-booming pandemi, dengan gelombang PHK massal melanda bahkan perusahaan raksasa sekalipun.

Portofolio Game Tetap Berjalan Normal

Di tengah gejolak saham tersebut, Devolver tidak berhenti menerbitkan game. Cult of the Lamb yang rilis 2022 lalu menjadi salah satu judul indie paling sukses tahun itu, sementara Skate Story juga mendapat sambutan hangat dari kritikus. Belum ada pengumuman apakah rencana privatisasi ini akan mempengaruhi jadwal rilis game mendatang.

Bagi gamer Indonesia yang menantikan judul-judul Devolver berikutnya, keputusan ini justru bisa menjadi kabar baik. Tanpa tekanan investor jangka pendek, penerbit punya ruang lebih leluasa untuk mendukung developer indie bereksperimen—sesuatu yang selama ini menjadi ciri khas Devolver di kancah industri game global.

Follow batamdaily.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: eurogamer.net

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks