KEPULAUAN RIAU — Data RTI Business mencatat indeks dibuka di level 6.448 dan sempat menyentuh level tertingginya di angka 6.485 pada awal sesi. Hingga pukul 09.23 WIB, nilai transaksi di bursa telah mencapai Rp2,607 triliun dengan volume saham berpindah tangan sebanyak 6,925 miliar lembar.
Momentum penguatan ini tidak terlepas dari aksi beli investor asing dan domestik yang mendominasi pasar. Sebanyak 363 saham tercatat menguat, sementara 186 saham melemah dan 187 saham lainnya stagnan. Kapitalisasi pasar bursa pun ikut naik ke posisi Rp11.418,09 triliun.
Tiga Katalis yang Menopang Awal Pekan
Penguatan indeks pada hari ini ditopang oleh kombinasi sentimen domestik dan eksternal. Investor tengah bersikap wait and see terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026. Konsensus pasar memperkirakan BI kembali menahan suku bunga acuan di level 5,75%, menyusul kenaikan agresif sebesar 75 basis poin pada periode April-Juni lalu.
Selain itu, pasar juga mencermati rilis data Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia untuk Juni 2026. Sebagai catatan, posisi utang per Mei telah mencapai rekor tertinggi sejak 2007, yakni di angka US$444,40 miliar. Angka ini menjadi perhatian pelaku pasar terhadap stabilitas fundamental ekonomi jangka menengah.
Dari sisi fiskal, optimisme datang dari postur Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 yang tengah disusun pemerintah. Target pendapatan negara dipatok Rp3.426 triliun dengan belanja Rp4.097,2 triliun, yang memproyeksikan defisit terkendali di kisaran 2,40% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Saham Penggerak dan Sentimen Risiko
Meski mayoritas saham berada di zona hijau, pergerakan indeks masih dibayangi oleh risiko domestik, terutama pasca-bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban jiwa telah mencapai 68 orang per 17 Agustus 2026, meski pemerintah menegaskan proses penanganan masih terkendali dengan sumber daya dalam negeri.
Dari sisi sektoral, sektor perbankan dan energi menjadi motor utama penguatan indeks pada sesi awal perdagangan. Investor tampak melakukan akumulasi beli pada saham-saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya terkoreksi selama masa libur panjang.
Adapun pergerakan rupiah masih menjadi variabel yang perlu dicermati. Pada perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.840 per dolar Amerika Serikat, level yang masih jauh dari fundamental ekonomi domestik. Pelemahan kurs ini berpotensi membatasi ruang penguatan IHSG lebih lanjut apabila berlanjut hingga penutupan sesi.
Investasi mengandung risiko. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.