KEPULAUAN RIAU — Penguatan rupiah pagi ini sejalan dengan pergerakan sejumlah mata uang Asia lainnya. Data dari pasar menunjukkan yuan China terapresiasi 0,01 persen, peso Filipina menguat 0,26 persen, dan ringgit Malaysia naik 0,07 persen terhadap dolar AS.
Di sisi lain, dolar Singapura justru turun 0,08 persen, yen Jepang melemah 0,32 persen, dan won Korea Selatan terdepresiasi 0,59 persen. Dolar Hong Kong terpantau stabil pada perdagangan hari ini.
Sentimen Eksternal Dominasi Pergerakan Mata Uang Garuda
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menyebutkan, tekanan terhadap dolar AS berasal dari rilis data non-farm payroll (NFP) pada Jumat lalu yang jauh lebih lemah dari perkiraan. Kondisi ini memicu penurunan ekspektasi pelaku pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh The Fed.
"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS yang tertekan setelah data pekerjaan AS, NFP, pada hari Jumat jauh lebih lemah dari harapan sehingga memicu menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (10/8).
Pelemahan dolar AS juga terlihat dari pergerakan mata uang utama negara maju. Euro Eropa melemah 0,05 persen, poundsterling Inggris turun 0,01 persen, dolar Australia terkoreksi 0,04 persen, serta dolar Kanada dan franc Swiss masing-masing melemah 0,10 persen dan 0,11 persen.
Selat Hormuz: Faktor Penahan di Balik Penguatan Rupiah
Kendati ada peluang penguatan, Lukman mengingatkan bahwa ruang gerak rupiah masih dibayangi ketidakpastian geopolitik. Isu pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi sentimen yang berpotensi membatasi laju mata uang Garuda.
"Namun, ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz bisa menahan penguatan," katanya.
Berdasarkan risetnya, Lukman memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan berada dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS. Level support dan resistance tersebut menjadi acuan pelaku pasar untuk menentukan posisi transaksi jangka pendek.
Investasi mengandung risiko.