KEPULAUAN RIAU — Harga gabah di tingkat petani sempat menjadi momok setiap kali musim panen tiba. Namun, tahun ini ceritanya berbeda. Di Desa Srengseng, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten, areal persawahan yang digarap petani setempat tampak dipenuhi hamparan gabah yang baru saja dijemur di atas terpal plastik. Aktivitas panen berjalan normal, dan yang lebih penting, para petani tidak lagi mengeluhkan soal harga.
Kondisi ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menugaskan Perum Bulog untuk menyerap gabah dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang telah disesuaikan. Kepala Perum Bulog, Bayu Krisnamurthi, dalam keterangannya pekan lalu menyebutkan bahwa penyerapan gabah dalam negeri hingga saat ini sudah mencapai 1,2 juta ton setara beras.
"Angka ini melampaui target yang ditetapkan pemerintah sebesar 1 juta ton untuk tahun ini. Kami optimistis serapan akan terus bertambah seiring berlangsungnya panen raya di sejumlah sentra produksi," ujar Bayu. Stok Aman, Harga Petani Terlindungi
Melimpahnya serapan gabah membuat gudang-gudang Bulog di berbagai daerah kini terisi penuh. Total stok beras yang dikelola Bulog tercatat mencapai 2,1 juta ton. Jumlah tersebut jauh di atas kebutuhan cadangan beras pemerintah (CBP) yang ditetapkan sebesar 1,2 juta ton.
Artinya, pemerintah memiliki ruang fiskal dan logistik yang cukup untuk melakukan operasi pasar apabila terjadi gejolak harga di pasaran. Lebih dari itu, penyerapan ini berdampak langsung pada kesejahteraan petani.
Di tingkat petani, harga gabah kering panen kini bertahan di kisaran Rp 6.500 per kilogram, sesuai dengan HPP yang ditetapkan pemerintah. Angka ini membuat petani memperoleh keuntungan yang layak, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya ketika harga sempat anjlok hingga di bawah Rp 4.500 per kilogram. Mengapa Penyerapan Lebih Cepat Tahun Ini?
Ada sejumlah faktor yang membuat kinerja Bulog tahun ini lebih gesit dibanding tahun lalu. Pertama, koordinasi antara Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, dan Bulog berjalan lebih intensif sejak awal musim tanam. Kedua, Bulog gencar membuka titik-titik pengumpulan gabah (TPG) hingga ke tingkat kecamatan.
Ketiga, perbaikan sistem pembayaran. Petani dan mitra penggilingan kini menerima pembayaran secara langsung melalui transfer bank dalam waktu maksimal tiga hari setelah penyerahan. Skema ini menghilangkan praktik tengkulak yang kerap memotong harga jual petani.
"Kami juga melibatkan penggilingan padi kecil dan menengah sebagai mitra. Mereka kami beri margin yang wajar sehingga tidak ada lagi alasan untuk menekan harga di tingkat petani," tambah Bayu. Target Berikutnya: Serap 3 Juta Ton Hingga Akhir Tahun
Keberhasilan ini belum membuat Bulog berpuas diri. Pemerintah menargetkan penyerapan gabah dalam negeri mencapai 3 juta ton hingga akhir Desember 2026. Dari target tersebut, Bulog akan mengalokasikan sebagian besar untuk menjaga stabilitas harga beras di pasar tradisional dan modern.
Selain itu, stok yang melimpah juga menjadi modal bagi program bantuan pangan pemerintah yang menyasar 22 juta keluarga penerima manfaat. Setiap keluarga akan menerima 10 kilogram beras per bulan, dan Bulog dipastikan memiliki pasokan yang cukup untuk program tersebut hingga akhir kuartal ketiga tahun ini.
Dengan stok yang aman dan harga petani yang terlindungi, sinyal positif dari sektor pertanian ini diharapkan mampu menahan laju inflasi pangan dan menjaga daya beli masyarakat secara keseluruhan.