KEPULAUAN RIAU — Ipswich datang dengan pendekatan berbeda dibanding dua musim lalu. Jika sebelumnya mereka mengandalkan pemain terbaik Championship yang belum teruji di kasta tertinggi, kini skuad diisi pemain berpengalaman Premier League seperti Issa Diop dan Sasa Lukic dari Fulham, plus Florentino Luís yang sempat merasakan kerasnya liga bersama Burnley. Kombinasi itu diharapkan memberi tulang punggung kuat di lini tengah.
Gary O'Neil: Spesialis Misi Sulit yang Gantikan McKenna
Kepergian Kieran McKenna setelah promosi memaksa Ipswich bergerak cepat. Pilihan jatuh pada Gary O'Neil, pelatih yang kariernya di Bournemouth dan Wolves identik dengan perjuangan menjauh dari zona merah. Meski masa akhirnya di Wolves buruk akibat minim investasi klub, reputasinya sebagai pelatih cerdas dan pekerja keras tetap utuh.
O'Neil mewarisi skuad yang sudah lebih siap secara materi. Bekal pengalaman Premier League di lini belakang dan tengah menjadi modal berharga, meski satu tambahan gelandang lagi dinilai masih diperlukan. "Dia punya kualitas juang dan kecerdasan untuk menjaga tim tetap bertahan," demikian penilaian yang beredar di kalangan pengamat.
Emersonn: Rekrutan Termahal yang Jadi Tumpuan Gol
Emersonn menjadi pembelian termahal Ipswich sepanjang sejarah dengan nilai £24 juta dari Toulouse. Pemain Brasil berusia 22 tahun ini belum membuktikan konsistensi sebagai pencetak gol, namun punya kecepatan dan naluri menusuk di belakang pertahanan lawan. Ia tiba tanpa kebugaran ideal dan harus mengejar ketertinggalan di pramusim.
Ketajamannya akan menentukan nasib Ipswich. Musim lalu di Championship, mereka menjadi tim paling efisien dalam memanfaatkan turnover tinggi—22,2% peluang lahir dari situasi tersebut, dua kali lipat rata-rata liga. Jika O'Neil mampu mempertahankan efektivitas itu, peluang bertahan terbuka lebar.
Kjell Scherpen dan Sejarah 2,06 Meter di Gawang
Ipswich juga mencatat sejarah dengan merekrut Kjell Scherpen. Kiper asal Belanda setinggi 6 kaki 9 inci atau sekitar 2,06 meter itu bakal menjadi pemain tertinggi yang pernah tampil di Premier League. Kehadirannya menambah dimensi baru bagi lini pertahanan, terutama dalam duel udara dan situasi bola mati.
Dari Ed Sheeran hingga Kontroversi Nigel Farage
Di luar lapangan, Ipswich tengah merampungkan renovasi pusat latihan senilai £30 juta yang mencakup gedung baru untuk tim utama, akademi, dan tim wanita. Sponsor utama klub masih dipegang perusahaan lokal Halo, sementara nama Ed Sheeran tetap terpampang di lengan jersey.
Namun ada noda di musim lalu: undangan kepada pemimpin Reform UK, Nigel Farage, ke Portman Road menjadi badai PR yang memalukan. Keberhasilan promosi akhirnya mengubur kontroversi itu, tapi jejaknya masih membekas di tengah upaya klub membangun citra positif.
Ujian Berat di Pekan-Pekan Awal
Pramusim Ipswich berjalan lambat—kalah dari Osasuna sebelum tampil meyakinkan kontra Rayo Vallecano. Kembalinya Julio Enciso dari cedera diharapkan menambah kreativitas yang selama ini kurang. Dengan belanja besar dan manajer baru, target Ipswich musim ini sederhana: jangan jadi tim yoyo yang naik-turun divisi. Prediksi Guardian yang menempatkan mereka di posisi 19 menjadi pengingat bahwa uang saja tidak cukup—konsistensi dan adaptasi cepat terhadap metode O'Neil adalah kuncinya.