BATAM — Ketergantungan ekspor perikanan Batam pada pasar Singapura kembali menjadi perhatian setelah data hingga Mei 2026 menunjukkan seluruh 3.678 ton komoditas dikirim ke negara tersebut. Angka ini baru mencapai 45 persen dari target nilai ekspor tahunan sebesar Rp280 miliar.
Kepala Dinas Perikanan Kota Batam Yudi Admajianto menyampaikan, pemerintah tetap mempertahankan target ekspor 2026 sebesar 7.000 ton dengan nilai sekitar Rp280 miliar. Catatan Badan Karantina Indonesia menunjukkan pengiriman berlangsung melalui sejumlah pelabuhan, antara lain Belakang Padang, Tanjung Riau, dan Sagulung.
Jenis Ikan Andalan dari Perairan Dangkal Batam
Komoditas yang dikirim mencakup berbagai hasil perikanan bernilai ekonomi tinggi, seperti kerapu, kakap, tenggiri, kaci, dingkis, udang vaname, sotong, kepiting atau rajungan, serta lobster. Sebagian besar tangkapan berasal dari nelayan tradisional di perairan sekitar Batam, terutama Belakangpadang, Bulang, dan Galang.
Karakter perairan yang didominasi laut dangkal dan kawasan terumbu karang menjadi faktor penentu jenis ikan unggulan. “Perairan Batam umumnya laut dangkal dan perairan karang,” kata Yudi. Kondisi ini mendukung tangkapan ikan karang seperti kakap, kerapu, kaci, dan dingkis yang masuk rantai pasok ekspor menuju Singapura.
Bantuan Alat Tangkap Jadi Andalan Kejar Target
Dinas Perikanan memberikan bantuan alat tangkap dan mesin kapal kepada nelayan untuk menopang target ekspor. Bantuan itu diharapkan meningkatkan produktivitas sehingga volume tangkapan dapat mengejar selisih nilai ekspor yang masih tersisa sekitar Rp155 miliar hingga akhir tahun.
Yudi optimistis target tahunan dapat tercapai karena realisasi volume hingga Mei telah melampaui separuh sasaran. “Kami optimistis akhir tahun tercapai,” ujar dia. Meski demikian, pencapaian target tetap bergantung pada kondisi cuaca dan kelancaran operasional penangkapan serta pengiriman.
Target 2026 Lebih Tinggi dari Realisasi 2025
Sasaran tahun ini memang lebih tinggi dibanding realisasi ekspor perikanan Batam sepanjang 2025 yang mencapai 6.406 ton dengan nilai Rp263 miliar. Capaian tahun lalu itu telah melampaui target nilai ekspor sebesar Rp250 miliar.
Pemerintah kemudian menaikkan sasaran 2026 dengan mempertimbangkan dukungan peralatan bagi nelayan. “Tahun lalu volume dan nilai ekspor melampaui target,” ujar Yudi. Dengan realisasi volume yang sudah lebih dari separuh target tahunan, pemerintah berharap nilai ekspor dapat terus dikejar melalui peningkatan produksi hingga akhir tahun.