Kemiripan Visual dan Tuduhan Gen-AI
KEPULAUAN RIAU — Kesan "uncanny" dari penampilan karakter dalam trailer menjadi pemicu utama kecurigaan. Banyak warganet, termasuk jurnalis, mempertanyakan proses pembuatan trailer di kolom komentar unggahan resmi di X. Pola visual yang dihasilkan dianggap memiliki kemiripan kuat dengan video-video generatif yang marak beredar di internet.
Kamera fisheye, pencahayaan halus yang mengurangi detail tekstur, serta latar belakang yang tampak terpisah dari subjek utama, memperkuat asumsi tersebut. Gaya visual seperti ini memang kerap diasosiasikan dengan keluaran model AI generatif yang belum sempurna.
Bantahan Resmi Amplitude Studios
Menanggapi polemik yang berkembang, Amplitude Studios buka suara melalui pernyataan resmi di akun X mereka. Developer asal Prancis itu menegaskan bahwa seluruh proses produksi trailer dilakukan secara konvensional tanpa bantuan generative AI.
"Trailer pengumuman live-action Humankind 2 difilmkan di Nu Boyana Film Studios di Sofia menggunakan aktor asli, set praktis, dan properti yang dibuat khusus untuk produksi ini," demikian pernyataan Amplitude. Mereka juga menjanjikan akan membagikan foto di balik layar proses syuting dalam waktu dekat.
Konsep Trailer dan Detail Game
Trailer live-action ini diambil dari sudut pandang seorang bayi yang baru lahir. Kamera fokus pada karakter yang menggendong bayi tersebut di setiap pergantian era sejarah yang ditampilkan. Konsep ini menjadi pembeda dari sekadar montase biasa, namun secara tidak sengaja menciptakan kemiripan visual dengan tren video AI.
Humankind 2 dijadwalkan rilis pada 2027 untuk platform PC. Game ini mempertahankan konsep dasar pendahulunya, di mana pemain membangun peradaban sendiri dengan mengombinasikan berbagai pengaruh budaya historis untuk melewati setiap zaman.
Era Ketidakpercayaan Visual di Industri Game
Insiden ini mencerminkan meningkatnya kewaspadaan komunitas gamer terhadap penggunaan AI dalam materi pemasaran. Seiring makin canggihnya alat gen-AI, banyak perusahaan mulai mengadopsinya untuk produksi konten, yang pada gilirannya menumbuhkan rasa skeptisisme publik.
Kesalahpahaman seperti ini berpotensi menjadi lebih sering terjadi. Pertanyaannya kini, apakah perusahaan akan menghindari gaya visual tertentu agar tidak dianggap memakai AI? Atau mereka harus siap, seperti Amplitude, untuk memberikan klarifikasi dan menunjukkan bukti proses produksi mereka.
Untuk konteks, game pertama Humankind mendapatkan ulasan beragam. Chris Tapsell dari Eurogamer menilai game tersebut gagal secara konsisten mewujudkan ambisinya sendiri, serta tidak mampu menyeimbangkan sisi keseruan dengan akurasi historis.