BATAM — Bank Indonesia Kepri mengubah haluan strategi pariwisata di wilayah perbatasan. Alih-alih mengejar rekor jumlah turis, mereka kini membidik wisatawan berkantong tebal. Tiga kabupaten—Lingga, Natuna, dan Anambas—menjadi sasaran utama program ini.
Kepala KPw BI Kepri Rony Widijarto mengatakan potensi daerah perbatasan tidak optimal jika hanya mengandalkan volume kunjungan. “Dalam pengembangan pariwisata tidak hanya melihat bagaimana mendatangkan orang sebanyak-banyaknya. Di Kepri ada potensi untuk mendorong high quality tourism, yakni wisatawan mancanegara yang memiliki tingkat belanja lebih tinggi sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi daerah,” kata Rony di Batam, Kamis.
Hasil survei internal BI menunjukkan Kepri unggul pada pilar keunikan destinasi. Artinya, daya tarik alam dan budaya lokal menjadi modal utama yang tidak dimiliki daerah lain.
BI Kepri melihat wisata berbasis budaya Melayu sebagai daya tarik utama. Salah satu produk yang disorot adalah Tudung Manto, busana tradisional asli Lingga. Lembaga ini menilai kain tradisional itu berpotensi dikembangkan menjadi produk fesyen unggulan yang bisa dijual ke wisatawan asing.
“Kita ingin budaya Melayu tetap dilestarikan sekaligus menjadi sumber ekonomi baru. Potensi seperti Tudung Manto bisa dikembangkan menjadi produk fesyen,” ujar Rony.
Selain wastra, kuliner lokal dan pemberdayaan UMKM juga masuk dalam ekosistem pariwisata berkualitas yang tengah dirancang. BI ingin pelaku usaha kecil di tiga daerah itu terlibat langsung dalam rantai ekonomi pariwisata.
Untuk menunjang kenyamanan wisatawan asing, BI Kepri terus mendorong digitalisasi transaksi melalui QRIS lintas negara. Data terbaru menunjukkan dampaknya nyata: volume transaksi QRIS inbound dari Malaysia melonjak sekitar 500 persen secara tahunan, dengan nominal tumbuh 529 persen. Sementara dari Singapura, volume naik 223 persen dan nominal bertambah 288 persen.
“Jumlah wisatawan dari Malaysia dan Singapura sangat besar. Karena itu digitalisasi pembayaran melalui QRIS menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung kenyamanan wisatawan sekaligus memperkuat ekonomi pariwisata di Kepri,” kata Rony.
Data ini mencakup periode Januari hingga April 2026, menunjukkan adopsi pembayaran nontunai di kalangan turis asing sudah berjalan pesat.
Strategi ini diarahkan untuk menjawab tantangan akses ekonomi di Lingga, Natuna, dan Anambas. Ketiga daerah itu memiliki potensi besar tetapi masih bergulat dengan tingkat kemiskinan yang relatif tinggi. Dengan melibatkan UMKM dalam rantai pasok pariwisata, BI berharap pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh pelaku usaha besar, tetapi juga merata ke warga setempat.