KEPULAUAN RIAU — Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memperlihatkan pasar battery electric vehicle (BEV) domestik masih tumbuh agresif. Angka 101.171 unit sepanjang delapan bulan pertama 2026 hampir dua kali lipat capaian tahun lalu. Persaingan antarmerek terbuka lebar seiring bertambahnya model dan rentang harga yang tersedia.
Jika seluruh varian J5 BEV digabungkan, Jaecoo mengantongi 23.359 unit. Posisi kedua diisi BYD Atto 1 dengan 19.909 unit dari akumulasi varian Standard, Premium, dan Dynamic.
Geely EX2 menyusul di peringkat ketiga lewat 9.769 unit gabungan varian Pro dan Max. BYD masih menempatkan dua model lain di lima besar: M6 dengan 6.694 unit dan Sealion 7 sebanyak 4.251 unit.
Wuling Darion EV mencatat 3.733 unit dari varian CE dan EX. Denza D9 mengikuti dengan 3.001 unit. Dua model Geely dan MG melengkapi sepuluh besar: EX5 2.407 unit, MG S5 EV 2.253 unit, dan Aion V 2.228 unit.
Komposisi daftar ini menegaskan dominasi produsen asal Cina di segmen BEV Indonesia. Ekspansi mereka berjalan seiring hadirnya basis manufaktur lokal.
BYD sudah mengoperasikan pabrik di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas 150.000 unit per tahun dan investasi Rp16 triliun. Wuling memiliki fasilitas di Cikarang. Chery, Geely, dan Jetour masih menumpang perakitan PT Handal Indonesia Motor (HIM).
Lonjakan 97,6% secara year-on-year menunjukkan permintaan BEV belum melandai. Pilihan model yang makin beragam dan harga kompetitif menjadi pendorong utama.
Di sisi lain, Kementerian Perindustrian mewaspadai banjir truk impor yang berpotensi menekan industri otomotif nasional. Utilisasi pabrik dan penyerapan tenaga kerja disebut sebagai sektor paling rentan terdampak.
Pertumbuhan pasar BEV diperkirakan berlanjut hingga akhir 2026 seiring bertambahnya merek dan model yang masuk ke Indonesia.