BATAM — Dinkes Kota Batam tidak menunggu munculnya korban untuk bergerak. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah telah ditetapkan sebagai fasilitas rujukan isolasi untuk menangani pasien terduga virus hanta, penyakit yang ditularkan melalui tikus dan celurut.
Kepala Dinkes Kota Batam Didi Kusmarjadi mengatakan, hingga Senin lalu, belum ada satu pun warga Batam yang terkonfirmasi atau menunjukkan gejala hantavirus. “Kalau di pintu masuk Batam ada pemantauan dari pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan, namun kalau dari Dinkes, kami bersiap untuk ruangan isolasi di rumah sakit,” ujarnya.
Mengapa Hantavirus Diwaspadai di Batam?
Kewaspadaan ini bukan tanpa alasan. Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan edaran peringatan dini terkait penyakit virus hanta yang bisa menyebabkan demam berat hingga gangguan pernapasan akut. Sebagai kota pelabuhan dan pintu gerbang internasional, risiko masuknya patogen dari luar negeri lebih tinggi di Batam.
Dinkes Batam punya sejumlah tugas dalam pengawasan dan pencegahan penyakit tersebut, mulai dari surveilans hingga pengendalian faktor risiko. “Salah satunya melalui pemantauan tren kasus Severe Acute Respiratory Infection (SARI), infeksi saluran pernapasan akut (ispa), pneumonia, hingga penyakit lain yang memiliki gejala serupa melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR),” kata Didi.
Peran Tikus dan Celurut sebagai Pembawa Virus
Penyakit virus hanta tidak menular antarmanusia. Vektor utamanya adalah tikus dan celurut yang mengeluarkan virus melalui urine, kotoran, dan air liur. Manusia bisa terinfeksi saat menghirup partikel debu yang terkontaminasi atau menyentuh benda yang sudah terpapar.
Dinkes Batam mengimbau masyarakat untuk tidak menganggap remeh hewan pengerat di lingkungan rumah. “Sebaiknya berwaspada, masyarakat jika membersihkan kotoran tikus misalnya, baiknya memakai masker dan alat pelindung diri lain,” pesan Didi.
Pemerintah kota juga menginstruksikan puskesmas dan rumah sakit untuk melakukan sosialisasi pencegahan, deteksi, dan respons penyakit virus hanta kepada tenaga medis. Pengendalian populasi tikus dan celurut di pemukiman serta area perkebunan menjadi prioritas.
Belum Ada Kasus, Tapi Kesiapan Tetap Diperkuat
Hingga berita ini diturunkan, belum ditemukan satu pun kasus hantavirus di Batam. Namun, Dinkes tetap melakukan koordinasi dengan rumah sakit rujukan untuk memastikan kesiapan tatalaksana kasus. “Iya, sudah ada warning juga dari kementerian untuk hantavirus ini. Namun belum ada temuan kasus kalau di edaran kementerian,” ujar Didi.
Langkah antisipasi ini dianggap wajar mengingat Batam merupakan kota dengan mobilitas tinggi dan kepadatan permukiman yang berdekatan dengan area semak atau perkebunan. Dinkes mendorong warga untuk menjaga kebersihan lingkungan dan melaporkan jika menemukan gejala seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot, dan sesak napas yang tidak biasa.