BINTAN — Para peternak ayam yang tergabung dalam Asosiasi Peternak Unggas Bintan (APUB) menyatakan beban operasional mereka kian berat. Penyebab utamanya adalah lonjakan harga pakan yang disebut naik hingga 30 persen dibanding tahun lalu.
Jemi, salah satu peternak anggota APUB, mengungkapkan bahwa saat ini biaya produksi ayam di kandangnya sudah mencapai Rp 27 ribu per kilogram. Angka ini terus merangkak naik dalam beberapa bulan terakhir.
“Biaya produksi sudah Rp 27 ribu per kilogram, sementara harga jual dari kandang belum bisa menutup itu semua,” ujarnya.
Satgas Pangan Bintan Setujui Penyesuaian Harga
Menanggapi keluhan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bintan melalui Satgas Pangan bergerak cepat. Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bintan, Setia Kurniawan, menyatakan pihaknya telah mengakomodir permintaan para peternak.
“Sudah ditetapkan dengan tetap memperhatikan daya beli masyarakat, dan ketetapan harga jual dipasaran yang tidak lebih tinggi dari Harga Eceran Tertinggi (HET),” jelas Setia Kurniawan.
Keputusan ini diambil agar peternak tetap bisa berproduksi tanpa harus menjual ayam di bawah harga pokok produksi. Namun, penyesuaian tersebut tetap dibatasi agar tidak membebani konsumen.
Harga Ayam di Pasar Masih Sesuai HET
Meski ada penyesuaian di tingkat produsen, harga daging ayam di pasar tradisional Bintan saat ini masih berada di kisaran Rp 40 ribu per kilogram. Angka itu dinilai masih sesuai dengan HET yang ditetapkan pemerintah daerah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa rantai distribusi belum sepenuhnya mampu menyerap kenaikan biaya produksi dari hulu. Para peternak berharap kebijakan penyesuaian harga ini bisa segera dirasakan dampaknya agar usaha mereka tidak terus merugi.
APUB sendiri berencana terus berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat untuk memantau perkembangan harga pakan dan daya beli masyarakat di pasar.