BINTAN — Bupati Bintan Roby Kurniawan langsung menginstruksikan Dinas Kesehatan untuk memantau kondisi jamaah haji yang tergabung dalam Kloter 1 Embarkasi Batam. Mereka tiba di Asrama Haji Batam pada Senin (1/6) sekitar pukul 18.45 WIB setelah mendarat di Bandara Internasional Hang Nadim.
Seluruh jamaah dalam kondisi sehat wal afiat, meski masih tampak kelelahan usai menempuh perjalanan panjang dari Tanah Suci. Namun, perbedaan iklim yang drastis menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Mekanisme: Cukup Hubungi Petugas Haji, Tenaga Medis Datang ke Rumah
Retno Riswati, Kepala Dinkes Bintan, menjelaskan bahwa jamaah yang mengalami keluhan seperti demam, batuk, pilek, atau sakit kepala bisa langsung menghubungi petugas haji setempat. Petugas tersebut kemudian akan meneruskan laporan ke puskesmas untuk ditindaklanjuti dengan kunjungan tim medis ke rumah pasien.
"Tubuh jamaah haji biasanya masih dalam proses penyesuaian kembali dengan iklim di Indonesia. Kami imbau untuk memperbanyak minum air putih dan konsumsi buah serta sayur," ujar Retno dalam keterangan yang diterima di Bintan, Selasa.
Total 445 Jamaah Kloter 1 Embarkasi Batam, 44 Orang Asal Bintan
Kloter 1 Embarkasi Batam tahun ini memberangkatkan 445 orang secara keseluruhan. Rinciannya, 44 jamaah dari Kabupaten Bintan, 27 orang dari Kabupaten Lingga, 145 orang dari Kota Tanjungpinang, dan 225 orang dari Kota Batam, ditambah empat petugas kloter.
Bupati Roby Kurniawan menyebutkan bahwa layanan home care ini akan berlangsung hingga tiga pekan ke depan. "Layanan ini untuk memastikan kondisi jamaah agar tetap fit dan bugar," kata Roby saat menyambut kedatangan jamaah di Batam.
Apa yang Perlu Dilakukan Jamaah dan Keluarga?
Pemkab Bintan menekankan pentingnya istirahat cukup setelah perjalanan panjang dan melelahkan selama di Tanah Suci. Keluarga jamaah juga diminta aktif melaporkan jika ada anggota keluarga yang menunjukkan gejala sakit setelah tiba di rumah.
Langkah ini menjadi protokol kesehatan rutin pasca-pemulangan jamaah haji di Bintan yang telah diterapkan dalam beberapa tahun terakhir. Dengan pemantauan aktif selama 21 hari, pemerintah berharap tidak ada jamaah yang mengalami komplikasi kesehatan akibat kelelahan atau perubahan iklim.