NATUNA — Belasan penabuh kompang berdiri rapi di tepi kampung pesisir, memukul rebana serempak mengiringi lantunan syair Melayu. Suara dentuman itu menghentikan langkah Bupati Cen Sui Lan dan rombongan begitu tiba di Desa Selaut, Sabtu pagi (20/6/2026). Bukan protokol resmi yang menghadang, melainkan tradisi penyambutan yang sudah diwariskan lintas generasi.
Belum usai tabuhan kompang, para penari muda perempuan melangkah pelan ke area penyambutan. Mereka membawakan tari persembahan, tarian sakral yang menjadi lambang keramahan masyarakat Melayu. Gerakan lembut dan anggun para penari menyampaikan pesan selamat datang tanpa kata-kata.
Bukan Sekadar Hiburan, Ada Doa di Balik Tarian
Bagi masyarakat Natuna, tari persembahan bukan sekadar pertunjukan. Tarian ini mengandung doa dan harapan agar tamu yang datang memperoleh keberkahan, keselamatan, serta membawa kebaikan bagi daerah yang dikunjungi. Filosofi itu masih dipegang teguh warga Desa Selaut.
Di tengah arus modernisasi yang merambah hingga pelosok, tradisi semacam ini makin jarang ditemukan. Namun di kampung pesisir itu, kemajuan tidak dipandang sebagai ancaman. Masyarakat justru membuktikan pembangunan dan pelestarian budaya bisa berjalan beriringan.
Anak Muda Ikut Terlibat, Tetua Kampung Jadi Penjaga
Anak-anak muda di Desa Selaut masih aktif terlibat dalam kegiatan budaya. Para tetua kampung berperan sebagai penjaga nilai-nilai adat. Tradisi leluhur tidak hanya dikenang sebagai cerita masa lalu, tetapi terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bupati Cen Sui Lan tampak menikmati setiap rangkaian penyambutan. Sesekali ia tersenyum dan memberikan apresiasi kepada para pelaku seni. Menurutnya, budaya adalah identitas yang tidak boleh hilang ditelan zaman.
"Budaya adalah jati diri daerah. Kalau bukan kita menjaga, siapa lagi. Saya berharap generasi muda mau belajar dan mencintai budaya daerahnya sendiri agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman," ujar Cen Sui Lan.
Kunjungan Kerja yang Berubah Makna
Apa yang semula hanya agenda pemerintahan akhirnya menghadirkan makna lebih dalam. Di balik program pembangunan, bantuan sosial, dan pelayanan masyarakat, terdapat kekayaan lain yang tak ternilai: budaya dan kearifan lokal.
Di Desa Selaut, kompang dan tari persembahan bukan sekadar seremoni. Keduanya adalah pesan yang terus disampaikan dari generasi ke generasi. Masyarakat Natuna tetap teguh menjaga akar budayanya, menghormati warisan leluhur, dan mewariskannya dengan bangga kepada anak cucu.
Ketika dentuman kompang mengiringi langkah tamu yang datang, sesungguhnya yang dipertahankan bukan hanya tradisi. Itu adalah identitas sebuah bangsa pesisir yang hingga hari ini masih berdiri kokoh di beranda utara Indonesia.