BATAM — Suasana Mega Mall Batam Centre berubah menjadi panggung seni tradisi pada Minggu (21/6/2026). Puluhan peserta dari berbagai kalangan tampil berbalas pantun, memadukan semangat HUT Polri dengan warisan budaya Melayu yang menjadi identitas Kepulauan Riau.
Mengapa Polri Mengangkat Tradisi Berbalas Pantun?
Lomba ini bukan sekadar seremonial. Polda Kepri sengaja memilih seni berbalas pantun sebagai medium mendekatkan institusi kepolisian dengan masyarakat. Tradisi lisan yang telah lama mengakar di Kepri ini dinilai efektif untuk menyampaikan pesan-pesan kamtibmas secara santun dan menghibur.
Kegiatan itu juga menjadi bagian dari upaya Polri menjaga warisan budaya daerah di tengah arus modernisasi. Wakapolda Kepri Brigjen Pol. Dr. Anom Wibowo turun langsung menyaksikan penampilan para peserta yang datang dari berbagai komunitas dan instansi.
Siapa Saja yang Hadir dan Berpartisipasi?
Acara tersebut dihadiri jajaran Pejabat Utama Polda Kepri, Irwasda Polda Kepri, serta perwakilan unsur pemerintah daerah. Kehadiran Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam Dato Wira Setia Utama Yang Mulia H. menjadi penanda bahwa tradisi ini mendapat dukungan penuh dari tokoh adat.
Tak hanya itu, dewan juri yang terdiri dari budayawan dan akademisi turut menilai setiap untaian pantun yang dilontarkan peserta. Para tamu undangan, termasuk tokoh masyarakat dan peserta lomba, memadati area mall yang disulap menjadi arena pertunjukan.
Bagaimana Lomba Berbalas Pantun Ini Berlangsung?
Setiap peserta tampil berpasangan, saling melempar pantun secara spontan dengan tema yang telah ditentukan. Pantun yang dilontarkan tidak hanya berisi humor, tetapi juga pesan moral, ajakan menjaga keamanan, serta nilai-nilai kearifan lokal Melayu.
Suasana semakin meriah ketika peserta dari kalangan kepolisian dan masyarakat umum saling berbalas pantun dengan nada jenaka. Penonton yang berkerumun di sekitar panggung sesekali bertepuk tangan dan tertawa mendengar improvisasi yang dilontarkan para peserta.
Apa Dampak Kegiatan Ini bagi Hubungan Polri-Masyarakat?
Lomba berbalas pantun menjadi salah satu cara Polri membangun citra humanis di mata publik. Dengan mengangkat budaya lokal, institusi kepolisian diharapkan lebih mudah diterima dan didekati oleh masyarakat Kepri yang mayoritas berlatarbelakang Melayu.
Kegiatan serupa direncanakan kembali digelar pada momentum Hari Bhayangkara tahun depan dengan konsep yang lebih besar. Polda Kepri juga membuka kemungkinan melibatkan lebih banyak peserta dari kalangan pelajar dan komunitas seni di seluruh kabupaten/kota se-Kepri.