KEPRI — Setiap komunitas atau organisasi yang berdiri di tengah masyarakat, termasuk di Kepulauan Riau, hampir dipastikan tidak akan pernah steril dari dinamika. Gesekan, silang pendapat, hingga kritik yang disampaikan dengan nada keras adalah keniscayaan yang logis, terlebih organisasi diisi oleh manusia dengan latar belakang, kepentingan, dan cara pandang yang berbeda-beda.
Justru di titik inilah kedewasaan sebuah komunitas diuji. Badai yang datang, gelombang pasang yang meninggi, dan dentuman petir yang menyambar disebut sebagai hal yang alami. Semua anggota dan pengurus bersama-sama menerima serta memutuskan secara arif, sejuk, dan damai.
Kritik Bukan Serangan, Melainkan Angin untuk Layar Perahu
Ketika cara pandang yang digunakan adalah mencari kebaikan bersama, kritik tidak lagi terasa sebagai serangan. Kritik justru dimaknai sebagai angin yang membuat layar perahu komunitas semakin terkembang. Dalam organisasi yang sehat, apalagi yang menganut asas kolektif kolegial, perbedaan adalah bahan bakar, bukan ancaman.
Prinsip penting yang harus ditegakkan adalah menundukkan ego pribadi. Jika sudah sepakat melebur dalam wadah kolektif kolegial, maka keakuan yang kental harus tunduk kepada kepentingan yang lebih tinggi, yakni kecintaan dan ketulusan terhadap tujuan komunitas. Tidak boleh lagi ada klaim "aku yang paling benar" atau "aku yang paling berjasa". Yang ada hanyalah "kita".
Pakar manajemen Peter F. Drucker pernah mengingatkan bahwa budaya organisasi yang baik bukanlah yang membuat semua orang nyaman setiap saat, melainkan yang membuat kebenaran lebih mudah untuk diucapkan. Senada dengan itu, John C. Maxwell dalam hukum tentang gesekan tim menyebut perbedaan pendapat adalah harga yang harus dibayar untuk kemajuan. Tim yang kuat bukanlah tim yang tidak pernah bertengkar, melainkan tim yang mampu mengelola pertengkaran menjadi solusi.
Bahaya Organisasi yang Sibuk di Ruang Ber-AC
Di sisi lain, muncul fenomena yang bertolak belakang. Ada orang yang masuk komunitas karena melihat seni berorganisasi sebagai panggung untuk menunjukkan eksistensi diri. Ada pula organisasi yang namanya besar dan strukturnya lengkap, namun tidak menapak ke akar rumput. Mereka nyaman bermain di tataran elitis, sibuk dengan konsep dan teori di ruang ber-AC, sementara masyarakat di bawah menunggu kehadiran yang nyata.
Padahal hakikat kebaikan itu sederhana: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Masyarakat tidak membutuhkan pidato panjang tentang kepedulian, mereka membutuhkan bukti kepedulian itu sendiri.
Contoh Nyata: Bank Sampah hingga Relawan Kebencanaan
Contoh nyata bisa dilihat di sekitar kita. Komunitas bank sampah di kampung-kampung yang awalnya dipenuhi perdebatan sengit soal pembagian hasil penjualan, justru dari dinamika itu lahir sistem yang transparan dan akhirnya memberi penghasilan tambahan bagi ibu-ibu. Gerakan relawan kebencanaan yang kerap adu argumen keras di lapangan soal jalur distribusi, karena semua sepakat muaranya untuk korban, perbedaan itu justru membuat bantuan menjadi lebih tepat dan cepat.
Organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah bisa bertahan lebih dari satu abad, bukan karena tidak pernah ada badai di internalnya, melainkan karena mampu memutuskan perbedaan dengan arif dan kembali kepada khitah awalnya, yaitu melayani umat. Kekuatan sebuah komunitas pada akhirnya tidak diukur dari seberapa besar nama atau ramainya wacana, melainkan dari seberapa nyata manfaat yang dirasakan masyarakat.