KEPULAUAN RIAU — Setelah tertekan beban biaya dan rugi ratusan miliar tahun lalu, kinerja keuangan KAEF kini menunjukkan arah baru. Laba usaha perusahaan melonjak 111,3 persen menjadi Rp 152,21 miliar pada paruh pertama tahun ini, dibandingkan Rp 72,01 miliar pada Semester I-2025.
Direktur Utama KAEF, Djagad Prakasa Dwialam, mengaitkan capaian ini dengan penguatan fundamental bisnis yang dijalankan perseroan. "KAEF dengan dukungan dan arahan Danantara terus memperkuat fondasi bisnis melalui pengelolaan portofolio, efisiensi operasional, penguatan produksi, dan perbaikan tata kelola," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (5/8/2026).
Efisiensi Mulai Terlihat dari Rasio Beban
Salah satu indikator yang menunjukkan perbaikan struktur biaya adalah rasio beban usaha terhadap penjualan. Angkanya turun dari 34,2 persen pada Semester I-2025 menjadi 33,2 persen pada Semester I-2026. Penurunan ini menandakan pengendalian biaya mulai berdampak nyata pada operasional perusahaan.
Manajemen menyebut transformasi dilakukan melalui enam fokus utama: ketahanan modal kerja, penguatan kompetensi sumber daya manusia, digitalisasi proses bisnis, efisiensi operasional, penguatan tata kelola perusahaan, serta sinergi antar entitas di lingkungan Kimia Farma Group.
Tekanan Geopolitik Masih Membayangi
Kendati kinerja membaik, perseroan tidak menutup mata terhadap risiko eksternal. Djagad mengingatkan bahwa dinamika geopolitik di Timur Tengah masih menekan biaya produksi, terutama kenaikan harga bahan baku dan bahan kemas yang sebagian besar masih diimpor.
"KAEF juga terus mencermati perkembangan kondisi tersebut, termasuk dampaknya terhadap stabilitas rantai pasok dan biaya produksi," kata Djagad.
Untuk menjaga keberlanjutan pasokan dan kesehatan margin, perseroan melanjutkan program efisiensi lanjutan, memperkuat pengendalian biaya, serta melakukan penyesuaian harga secara terukur pada sejumlah produk.
Modal untuk Dukung Program Nasional
Perbaikan kinerja ini memberi ruang lebih besar bagi KAEF untuk menjalankan perannya di sektor kesehatan nasional. Djagad menegaskan, dengan bisnis yang semakin sehat, perseroan memiliki kapasitas lebih kuat untuk mendukung ketersediaan obat, layanan kesehatan, hingga program prioritas pemerintah.
Laba bersih yang kembali positif di tengah tekanan biaya impor menjadi modal berharga bagi KAEF untuk melanjutkan langkah transformasi. Pertumbuhan penjualan yang diiringi perbaikan margin juga menunjukkan bahwa arah strategis yang diambil manajemen mulai sejalan dengan kondisi pasar.