Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat prevalensi stunting di wilayahnya turun ke angka 1,07 persen pada semester I 2026, atau 677 balita dari total 63.037 yang diukur. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan data Desember 2025 yang berada di 1 persen dengan 697 balita stunting dari 69.919 pengukuran. Pemkot Batam pun memperkuat intervensi spesifik dan sensitif untuk mempertahankan tren penurunan ini.
BATAM — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Kepulauan Riau, mencatat prevalensi stunting di kota itu sebesar 1,07 persen pada semester I 2026. Angka ini diperoleh dari hasil pengukuran terhadap 63.037 balita di seluruh wilayah Batam, dengan 677 balita yang masuk kategori stunting.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Batam Anggraini Nawang Wulan menyebut capaian ini merupakan hasil kerja kolektif semua pihak. "Prevalensi di angka 1,07 persen adalah berkat kerja semua pihak. Penanganan stunting bukan hanya tanggung jawab Dinas Kesehatan, tetapi semua pihak yang tergabung dalam TPPS Batam," kata Anggraini saat dihubungi di Batam, Rabu.
Angka Stunting Terus Menurun Sejak 2022
Jika dibandingkan dengan data semester II 2025, jumlah balita yang diukur pada semester I 2026 memang lebih rendah. Pada Desember 2025 tercatat 69.919 balita telah diukur, dengan 697 balita mengalami stunting atau prevalensi sebesar 1 persen.
Meski secara persentase semester I 2026 sedikit lebih tinggi dari Desember 2025, tren jangka panjang menunjukkan perbaikan signifikan. Dari tahun 2020, prevalensi stunting di Batam terus menurun, dari 15,2 persen pada 2022, menjadi 2,3 persen pada 2023, serta 1,28 persen pada 2024.
Intervensi Spesifik: Dari Remaja Hingga Balita
Anggraini menjelaskan, intervensi spesifik berkontribusi sekitar 30 persen dalam penanganan stunting. Intervensi ini diberikan secara langsung untuk mencegah maupun menangani masalah gizi, dengan perhatian dimulai sejak masa remaja, kehamilan, hingga anak memasuki usia balita.
Sebelum kelahiran, upaya yang dilakukan meliputi pemberian tablet tambah darah (TTD) bagi remaja putri, konsumsi 90 tablet tambah darah selama kehamilan, serta pemberian tambahan asupan gizi bagi ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis.
"Setelah kelahiran, intervensi yang diberikan seperti pemberian ASI eksklusif bagi bayi berusia di bawah enam bulan, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) untuk anak usia 6-23 bulan, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, hingga penanganan balita gizi kurang dan gizi buruk," katanya. Imunisasi dasar lengkap juga menjadi bagian dari intervensi spesifik ini.
Intervensi Sensitif: Akses Air Bersih dan KB Pascapersalinan
Sementara itu, intervensi sensitif memiliki kontribusi sekitar 70 persen dan mencakup berbagai faktor di luar layanan kesehatan langsung. Faktor-faktor ini justru menjadi penentu utama keberhasilan penurunan stunting dalam jangka panjang.
"Intervensi sensitif ini seperti memastikan keluarga memiliki akses air minum, sanitasi layak, pendampingan keluarga berisiko stunting, pelayanan KB (keluarga berencana) pascapersalinan, pemeriksaan kesehatan pasangan usia subur dan lainnya," kata Anggraini.
Dengan cakupan yang luas ini, penguatan kedua jenis intervensi dilakukan secara berkelanjutan. Anggraini menegaskan, kolaborasi lintas sektor dalam Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Batam menjadi kunci agar penurunan prevalensi stunting di Batam dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagi ke depannya.