Pencarian

Komplikasi Campak pada Anak: 20 Kasus SSPE di Filipina Jadi Pelajaran

Senin, 19 Oktober 2026 • 09:06:01 WIB
Komplikasi Campak pada Anak: 20 Kasus SSPE di Filipina Jadi Pelajaran
Ilustrasi anak menerima imunisasi campak di fasilitas kesehatan.

KEPULAUAN RIAU — Sebanyak 20 anak di satu rumah sakit Filipina dirawat karena subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), komplikasi campak yang muncul bertahun-tahun setelah anak tampak sembuh. Studi kasus 2007–2022 ini jadi pengingat pentingnya imunisasi campak sesuai jadwal, termasuk di Indonesia.

Subacute sclerosing panencephalitis (SSPE) adalah komplikasi campak yang langka, tetapi bisa muncul beberapa tahun setelah anak dinyatakan pulih. Virus campak menetap di sistem saraf pusat dan merusak fungsi otak secara progresif.

Laporan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases meninjau 20 anak yang dirawat dengan SSPE di sebuah rumah sakit anak di Quezon City, Filipina, sepanjang 2007–2022. Usia rata-rata saat dirawat 6,2 tahun, sementara usia rata-rata saat dilaporkan campak sekitar 8 bulan.

Apa Itu SSPE dan Mengapa Muncul Belakangan

SSPE menyebabkan penurunan fungsi otak dan saraf yang berlangsung bertahap. Karena jeda antara infeksi campak dan gejala bisa mencapai bertahun-tahun, keluarga sering mengira anak sudah sepenuhnya aman.

Empat anak dalam laporan diperkirakan terinfeksi saat wabah campak 2018–2019. Mereka baru dirawat pada 2020–2022, sekitar 2–3 tahun setelah infeksi. Peneliti menduga kasus-kasus ini bisa jadi awal gelombang pascawabah.

Tanda Awal yang Perlu Diperhatikan Orangtua

Perubahan perilaku atau kemampuan berpikir sering menjadi gejala pertama SSPE. Setelah itu, bisa muncul gerakan menyentak tak terkendali, kejang, gangguan gerak, hingga penurunan kesadaran.

Gejala tersebut tidak otomatis berarti anak mengalami SSPE. Namun, kemampuan yang makin menurun, apalagi disertai gerakan menyentak atau kejang, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter.

Riwayat campak yang tidak diketahui juga tidak selalu menyingkirkan kemungkinan SSPE. Pada laporan ini, riwayat campak tidak tercatat pada sekitar seperempat anak.

Vaksin Campak Tetap Jadi Pelindung Utama

Sebagian anak dalam laporan pernah menerima vaksin campak. Peneliti menegaskan SSPE berkaitan dengan infeksi virus campak alami, bukan virus yang dilemahkan dalam vaksin.

Di Indonesia, imunisasi rutin campak-rubela diberikan pada usia 9 dan 18 bulan, lalu imunisasi lanjutan pada anak usia sekolah. Orangtua bisa mengecek buku KIA atau berkonsultasi dengan puskesmas untuk memastikan jadwal imunisasi anak dan mengejar dosis yang terlewat.

Kapan Harus ke Dokter

Segera bawa anak ke dokter jika muncul gerakan menyentak yang berulang, kejang, atau penurunan kemampuan bicara dan bergerak. Jangan tunda pemeriksaan, terutama bila anak pernah menderita campak atau belum mendapat imunisasi lengkap.

Laporan 20 kasus di Filipina ini bukan angka untuk menghitung risiko di seluruh populasi. Namun, temuan tersebut cukup jadi pengingat bahwa melindungi anak dari campak lewat imunisasi sesuai jadwal adalah langkah paling sederhana untuk mencegah komplikasi serius di kemudian hari.

Follow batamdaily.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: idntimes.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks