TANJUNGPINANG — Dinas Kebudayaan Kepulauan Riau bersama perguruan silat setempat menggelar pagelaran seni bela diri di Pulau Paku, Sabtu (23/05/2026). Acara ini tidak hanya menampilkan atraksi para pendekar, tetapi juga menghidupkan kembali fragmen sejarah Tanjungpinang yang mulai terlupakan.
Pulau Kecil dengan Jejak Pertempuran Besar
Pulau Paku terletak di kawasan strategis perairan Hulu Riau. Pada masa Kesultanan Johor-Riau-Lingga, posisinya yang berada di jalur pelayaran utama menjadikannya benteng pertahanan penting. Catatan sejarah menyebutkan bahwa pada tahun 1784 terjadi peperangan besar antara pasukan Kerajaan Riau dan armada Belanda.
Kapal utama Belanda bernama Malaka's Walvaren berhasil ditenggelamkan di sekitar perairan Pulau Paku. Pasukan Melayu saat itu dipimpin oleh Sultan Mahmud Riayat Syah bersama Raja Haji Fisabilillah. Kemenangan itu menjadi salah satu peristiwa bersejarah yang memiliki pengaruh besar terhadap lahir dan berkembangnya Kota Tanjungpinang.
Dulu Benteng Perang, Kini Panggung Budaya
Suasana Pulau Paku kini jauh berbeda dibanding masa lalu. Tidak ada lagi suara dentuman meriam ataupun hiruk-pikuk peperangan. Pulau kecil itu tampak damai dan tenang. Namun masyarakat sekitar tetap menjaga dan mewariskan cerita tentang keberanian para pejuang Melayu yang pernah mempertahankan wilayah tersebut.
Kepala bidang adat tradisi dan karya budaya takbenda Dinas Kebudayaan Kepri, Harry Prima Putra, mengatakan bahwa perhelatan ini menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi dan sejarah yang mulai terlupakan. "Bagi masyarakat Tanjungpinang, Pulau Paku bukan hanya sekadar pulau kecil di tengah lautan. Pulau ini merupakan lambang identitas, sejarah, dan semangat perjuangan Melayu yang terus hidup dari masa ke masa," ungkap Harry.
Gerakan Silat yang Bercerita tentang Keberanian
Puncak kegiatan dimeriahkan dengan penampilan seni bela diri dari berbagai perguruan silat di Kota Tanjungpinang. Diiringi tabuhan gendang silat khas Melayu, para pendekar tampil di hadapan masyarakat yang memenuhi Dermaga Pulau Paku. Setiap gerakan dirancang layaknya sebuah kisah perjuangan—langkah tegas dan teknik kuncian melambangkan kewaspadaan serta keberanian, sementara atraksi ketahanan tubuh menggambarkan ketangguhan masyarakat Melayu.
Ketua Umum Lembaga Pelestari Nilai Adat dan Tradisi (PESILAT) Kepulauan Riau, Dato' Setia Perdana Pendekar Serigading Yoan S Nugraha, menegaskan bahwa Pulau Paku bukan sekadar timbunan tanah alami. "Pulau Paku merupakan sejarah kemenangan Kerajaan Riau pertama melawan armada Belanda pada tahun 1784 dan menjadi indikator utama sejarah lahirnya Kota Tanjungpinang," katanya.
Warisan yang Terus Dijaga
Acara ini turut dihadiri oleh Satpolairud Tanjungpinang, Polresta Tanjungpinang, Polsek Tanjungpinang Barat, dan para pendekar silat setempat. Saat senja perlahan menyelimuti perairan Hulu Riau, para pendekar kemudian bergeser ke Gedung Adat Melayu (LAM) Kepri untuk melanjutkan pagelaran malam dengan beragam atraksi dari berbagai perguruan silat.
Dewan pertimbangan Ikatan Pencat Seluruh Indonesia (IPSI) Kepulauan Riau, Dato' H. Huzrin Hood, dalam sambutannya menekankan bahwa Pulau Paku memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat penting. Pulau kecil yang pernah menjadi saksi perjuangan kerajaan Melayu melawan kolonialisme ini terus dijaga agar jejaknya tetap hidup di ingatan generasi masa depan.