BATAM — Deretan kebaya dengan sentuhan modern memenuhi Atrium Timur Megamall Batam Centre, Minggu (12/7). Busana-busana itu bukan sekadar karya fesyen, melainkan medium untuk menghidupkan kembali semangat nasionalisme dan melestarikan warisan budaya Nusantara.
Kompetisi ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bung Karno. Acara juga sekaligus mengenang jasa Fatmawati Soekarno, perempuan yang menjahit Sang Saka Merah Putih menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Seleksi Ketat: Filosofi hingga Estetika Busana Dinilai
Wakil Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak DPD PDI Perjuangan Kepri, Silvia Hilda Kusumaningtyas, mengatakan penilaian tidak hanya didasarkan pada keindahan busana. Juri juga menilai filosofi yang diangkat dalam setiap rancangan.
"Yang dinilai bukan hanya indah, tetapi juga memiliki filosofi, terinspirasi dari kebaya Ibu Fatmawati, penyusunan desain yang baik, sederhana, rapi, dan memiliki karakter," ujar Silvia.
Menurut dia, dewan juri akan memilih tiga desainer dan sembilan model terbaik. Mereka nantinya akan diberangkatkan mewakili Kepulauan Riau ke tingkat nasional.
Menggelorakan Semangat Nasionalisme Lewat Kebaya
Ketua DPD PDI Perjuangan Kepri, Soerya Respationo, mengatakan kompetisi ini merupakan agenda nasional yang digelar serentak di berbagai provinsi. Ia menegaskan kegiatan itu tidak hanya menampilkan karya fesyen, tetapi juga upaya membangkitkan kembali kecintaan masyarakat terhadap kebaya dan kerudung sebagai identitas budaya bangsa.
"Kami ingin menggelorakan semangat tradisional dan nasional melalui kebaya dan kerudung. Inspirasi utamanya berasal dari Ibu Fatmawati, istri Bung Karno sekaligus ibu dari Ibu Megawati Soekarnoputri," kata pria yang akrab disapa Romo Soerya itu.
Fatmawati memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia karena menjahit sendiri bendera Merah Putih yang dikibarkan saat Proklamasi 17 Agustus 1945. Semangat perjuangannya ingin diterjemahkan dalam bentuk karya fesyen yang tetap berpijak pada budaya Nusantara namun mampu mengikuti perkembangan zaman.
"Kebaya dan kerudung kita tampilkan dengan desain yang kreatif, inovatif, tetapi tetap berakar pada budaya Indonesia," ujarnya.
Ruang bagi Generasi Muda untuk Mencintai Wastra Nusantara
Silvia menambahkan kompetisi ini merupakan kali pertama digelar di Kepulauan Riau sebagai bagian dari seleksi nasional. Ia berharap kegiatan serupa dapat menjadi ruang bagi generasi muda, khususnya perempuan, untuk semakin mencintai kebaya dan wastra Nusantara di tengah derasnya arus fesyen modern.
"Kekayaan budaya bangsa ini sangat indah dan harus terus dilestarikan. Kami berharap generasi muda, khususnya perempuan, semakin mencintai warisan budaya Indonesia," pungkasnya.