KEPULAUAN RIAU — Jelang laga penentu gelar Divisi Satu musim 1988/89, The Gunners butuh kemenangan dengan selisih dua gol di kandang Liverpool untuk mengakhiri paceklik gelar selama 18 tahun. Dalam wawancara dengan FourFourTwo, Smith mengungkapkan bahwa tidak ada satu pun pengamat yang memberi mereka peluang. "Kami justru merasa santai karena tidak ada yang memfavoritkan kami," ujarnya.
Instruksi George Graham yang di Luar Dugaan
Manajer George Graham memberikan arahan yang mengejutkan di ruang ganti. Ia menekankan pentingnya menjaga clean sheet, bukan langsung mencetak gol. "Kami saling menyenggol dan bertanya-tanya, 'Apa yang dipikirkan bos?'" kenang Smith.
Saat babak pertama berakhir 0-0, Graham justru menyemangati tim: "Ini sempurna. Kita sudah clean sheet, sekarang dorong terus. Kita akan segera dapat gol pertama, lalu gol kedua. Bahkan mungkin gol ketiga." Smith mengaku terkejut dengan optimisme pelatihnya, tapi ternyata prediksi itu mulai terwujud.
Gol Kontroversial dan Sentuhan Ikonis Michael Thomas
Delapan menit setelah turun minum, Smith memecah kebuntuan lewat sundulan memanfaatkan tendangan bebas Nigel Winterburn. Gol itu langsung disambut protes para pemain Liverpool yang mengelilingi wasit dan hakim garis. "Secara alamiah, saya sempat khawatir gol itu dianulir," kata Smith.
Klimaks terjadi di masa injury time. Smith menerima bola dan dalam satu gerakan langsung berputar. Dari sudut matanya, ia melihat kemeja kuning—Michael Thomas yang melakukan lari khas sepanjang malam. "Mickey tidak pernah melakukan sesuatu sebelum waktunya, dia sangat santai. Kami pikir dia akan terlambat dan dijatuhkan," ujar Smith.
Namun Thomas menunggu hingga kiper Bruce Grobbelaar bergerak, lalu menyontek bola melewati kiper. Gol itu memastikan kemenangan 2-0 dan gelar juara untuk Arsenal. "Semakin jauh jarak waktu, semakin spesial momen itu. Pertandingan seperti itu tidak akan pernah terulang: laga head-to-head penentu gelar saat semua tim lain sudah selesai. Malam yang benar-benar spesial," tutup Smith.
Warisan yang Abadi
Kemenangan di Anfield 1989 menjadi salah satu mahakarya sepak bola Inggris. Bagi Arsenal, itu adalah awal dari era keemasan di bawah George Graham, yang kemudian membawa lima trofi utama. Smith sendiri mencetak 115 gol untuk Arsenal dan memenangkan lima gelar besar bersama The Gunners.