BATAM — Buralimar, warga Batam yang rutin menulis soal isu kawasan, menegaskan bahwa objektivitas dalam membaca hubungan ASEAN bukan berarti mengulang sudut pandang pihak luar. Menurutnya, analis Indonesia semestinya berani menguji pernyataan dan tindakan negara lain, bukan hanya menyoroti kelemahan di dalam negeri.
Pandangan itu ia sampaikan sebagai lanjutan dari tulisan bertajuk "Kemana Solidaritas ASEAN" bagian kedua. Buralimar menyoroti kecenderungan sebagian analisis yang dinilai lebih tajam mengkritik pemerintah sendiri ketimbang mencermati pernyataan keras pejabat asing.
Kritik Diminta Proporsional ke Semua Pihak
Buralimar menilai pemerintah Indonesia tidak kebal kritik. Namun ia mengingatkan bahwa pernyataan pejabat Singapura maupun Malaysia juga layak dikaji secara kritis, terutama jika pilihan katanya berpotensi menimbulkan kesan merendahkan Indonesia sebagai negara berdaulat.
"Objektivitas berarti memeriksa fakta, memahami konteks, mempertimbangkan kepentingan semua pihak, dan berani menyampaikan penilaian secara seimbang," tulis Buralimar dalam artikelnya.
Ia menegaskan kritik sebaiknya diarahkan kepada semua pihak secara proporsional. Analis Indonesia, menurutnya, tidak seharusnya terkesan menjadi juru bicara negara lain dalam membaca dinamika kawasan.
Komunikasi Pejabat Harus Senada dengan Arahan Presiden
Selain soal sikap terhadap negara tetangga, Buralimar menyoroti pentingnya kesamaan arah komunikasi di internal pemerintah. Menteri, pimpinan lembaga, diplomat, hingga pemerintah daerah diminta senada dan sefrekuensi dengan kebijakan nasional serta arahan Presiden.
Perbedaan pernyataan antarlembaga, menurutnya, dapat menimbulkan kebingungan publik dan melemahkan posisi diplomasi Indonesia. Koordinasi dinilai bukan berarti membungkam perbedaan pendapat, melainkan memastikan setiap penjelasan ke publik berbasis data, tanggung jawab, dan kepentingan negara.
Kabut Asap hingga Energi Masuk Agenda Kerja Sama
Buralimar juga mendorong ASEAN memperkuat mekanisme kerja sama penanganan kabut asap. Pencegahan kebakaran, pertukaran data, pelatihan bersama, bantuan teknis, dan penegakan hukum ia sebut perlu menjadi agenda berkelanjutan.
Ia menilai protokol komunikasi saat krisis diperlukan agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi pernyataan yang memperkeruh hubungan antarnegara anggota. Pertanggungjawaban perusahaan pun harus didasarkan pada bukti dan proses hukum yang adil, dengan tetap menghormati yurisdiksi masing-masing negara.
Kerja sama ASEAN, lanjutnya, perlu diperluas melampaui persoalan lingkungan. Energi, ketahanan pangan, perdagangan, industri, pariwisata, pendidikan, teknologi, dan keamanan kawasan ia sebut sebagai bidang yang menentukan masa depan bersama.
Batam, Bintan, Karimun Dinilai Punya Peluang Besar
Dalam konteks kedaulatan ekonomi, Buralimar menekankan pengelolaan sumber daya alam yang berpihak kepada rakyat. Investasi asing tetap penting, tetapi harus menghasilkan nilai tambah, membuka lapangan kerja, meningkatkan kemampuan tenaga kerja lokal, dan mendorong transfer teknologi.
Ia menyebut Batam, Bintan, dan Karimun memiliki peluang besar sebagai pusat industri, pariwisata, logistik, dan ekonomi digital. Potensi itu, menurutnya, harus dibangun dengan infrastruktur memadai, kepastian hukum, serta keterlibatan masyarakat dan pelaku usaha lokal.
Generasi milenial dan Gen Z ia tempatkan sebagai bagian utama strategi tersebut. Pendidikan berkualitas, pelatihan vokasi, kewirausahaan, akses pembiayaan, penelitian, dan penguasaan teknologi dinilai perlu diperkuat agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar bagi industri negara lain.
Bersahabat Tanpa Tunduk, Berdamai Tanpa Menggadaikan Kedaulatan
Buralimar menegaskan Indonesia tidak pernah menghendaki campur tangan dalam urusan dalam negeri negara ASEAN lain. Karena itu, ia menilai Indonesia patut mengharapkan penghormatan yang sama terhadap kedaulatan dan kepentingan nasionalnya.
"Kita perlu bersahabat tanpa harus tunduk, bekerja sama tanpa kehilangan harga diri, dan berdamai tanpa menggadaikan kedaulatan," tulisnya.
Ia mengingatkan kritik tetap diperlukan, tetapi harus disampaikan dengan adab dan rasa hormat. Buralimar menutup dengan ungkapan "Hubbul wathan minal iman" sebagai pengingat bahwa cinta tanah air bagian dari semangat keimanan, sekaligus menegaskan mencintai tanah air berarti ikut menjaga, memperbaiki, dan memperjuangkan masa depannya.