Pencarian

Berlayar dari Batam ke Pulau Penyengat Bintan, Menziarahi Makam Pujangga Melayu Raja Ali Haji

Jumat, 25 September 2026 • 11:31:01 WIB
Berlayar dari Batam ke Pulau Penyengat Bintan, Menziarahi Makam Pujangga Melayu Raja Ali Haji
Rombongan AJI menaiki bus menuju Pelabuhan Telaga Punggur, Batam, sebelum menyeberang ke Tanjungpinang.

TANJUNGPINANG — Sebanyak empat puluhan anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bertolak dari Asrama Haji Batam Center menaiki bus sewaan menuju Pelabuhan Telaga Punggur di Nongsa. Pelabuhan itu berjarak 16 kilometer dari Bandara Internasional Hang Nadim, tepat di ujung tenggara Pulau Batam.

Setibanya di dermaga, rombongan langsung masuk kapal ferry. Sebagian besar memilih duduk di geladak atas meski angin berembus deras. Ferry bergerak ke timur menuju Pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau.

45 Menit Menyeberang Selat Malaka

Di dek paling tinggi, seorang pria 63 tahun yang tinggal di Batam Center berbagi cerita tentang rutinitasnya menyeberang. Ia mengaku sudah 35 tahun pulang-pergi Batam-Tanjungpinang.

"Kalau tidak ada gelombang besar, 45-50 menit kita sampai di pelabuhan Tanjungpinang," katanya.

Pria bersongkok hitam itu menyebut jalur transportasi Batam-Tanjungpinang kian penting untuk pergerakan orang dan barang. Batam yang makin padat penduduk dan sesak aktivitas ekonomi membuat pengembangan ke Bintan dinilai lebih prospektif.

Setelah hampir satu jam berlayar, rombongan tiba di Pelabuhan Sri Bintan Pura yang menempel di pantai barat Pulau Bintan. Jarak 40 kilometer Telaga Punggur-Sri Bintan Pura terasa singkat karena perjalanan diisi obrolan dan pemandangan laut.

Pompong 18 Tahun Bolak-Balik ke Penyengat

Dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, rombongan berpindah ke pompong, perahu kayu kecil berkapasitas sepuluh penumpang. Nakhoda Ridwan Bin Ismail Jambi menyambut kedatangan mereka.

"Kami sudah 18 tahun bawa pompong dari Tanjungpinang ke Penyengat bolak-balik," ujar Ridwan.

Pulau Penyengat berada persis di seberang selat, barat Tanjungpinang, dengan jarak hanya dua kilometer. Pulau kecil itu panjangnya dua kilometer dengan lebar sekitar 850 meter. Saat cuaca cerah, pulau ini terlihat jelas dari Taman Gurindam Tanjungpinang, tempat Gedung Lembaga Adat Melayu berdiri tak jauh dari rumah dinas gubernur Kepri.

Raja Ali Haji dan Warisan Gurindam Melayu

Pulau Penyengat dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir Raja Ali Haji, penggubah karya sastra gurindam. Gurindam adalah puisi lama Melayu yang terdiri dari dua baris dalam satu bait, terikat aturan jumlah baris, bait, dan rima. Selain gurindam, puisi lama Melayu juga mengenal pantun, syair, dan karmina.

Di depan Masjid Raya Sultan Riau, rombongan disambut dua pendamping yang melepas kedatangan dengan pantun. Pesannya soal ucapan selamat datang dan kehangatan warga Penyengat. Pemandu juga menyitir pasal gurindam dalam sambutannya.

Rombongan lalu dipecah menjadi dua kelompok. Satu kelompok dipandu wisatawan berseragam adat Melayu lengkap dengan tanjak, ikat kepala khas Melayu.

Rumah Tabib hingga Makam Sang Pujangga

Dalam perjalanan menuju makam Raja Ali Haji, rombongan melewati bangunan tanpa atap. Itulah rumah tabib peninggalan Kerajaan Riau-Lingga, kediaman Raja Ahmad Thabib bin Raja Hasan bin Raja Ali Haji. Tabib tersebut lahir di Pulau Penyengat pada 1282 Hijriyah atau 1865 Masehi.

Pemandu menyebut Raja Ahmad bukan hanya ahli kesehatan. "Ia juga seorang ulama," katanya.

Setelah berkelok di jalan kampung, rombongan tiba di bangunan beratap yang menaungi makam. Warna kuning mendominasi area tersebut. Di depan pagar makam, sembari berteduh di bawah pohon, pemandu memaparkan riwayat Raja Ali Haji.

Pujangga itu adalah anak Raja Ahmad dan adik kandung Engku Putri Raja Hamidah. Engku Putri sendiri merupakan anak Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda Riau IV, sekaligus permaisuri Sultan Mahmud Syah III.

Saat menikah pada 1803, Engku Putri menerima mahar Pulau Penyengat. "Mirip Taj Mahal India yang dibangun sebagai bukti cinta raja pada istri, Sultan Mahmud Syah III menghadiahkan Pulau Penyengat untuk Engku Putri. Ia pemegang regalia, alat kebesaran dan mahkota, syarat sah penobatan sultan," ujar pemandu.

Festival Media Selat Malaka 2026 digelar dua kepengurusan AJI kota, Batam dan Tanjungpinang. Dua hari sebelumnya, rangkaian kegiatan berlangsung di Kampus Politeknik Negeri Batam sebelum rombongan bergeser ke Pulau Bintan.

Follow batamdaily.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: prohealth.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks