TANJUNGPINANG — Transformasi ini diumumkan Lis Darmansyah saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Tim Pembina Posyandu di sebuah hotel di Tanjungpinang, Selasa. Menurutnya, kompleksitas masalah yang dihadapi kader saat ini sudah jauh melampaui pelayanan kesehatan dasar.
"Posyandu bukan hanya berbicara soal kesehatan, namun aspek sosial juga memiliki peran yang sangat besar terhadap kondisi kesehatan masyarakat," ujar Lis.
Lis mencontohkan kasus stunting yang kerap tidak semata-mata dipicu kekurangan gizi. Perkawinan usia dini, pola pengasuhan anak yang salah, hingga kondisi ekonomi keluarga menjadi akar masalah yang harus diidentifikasi oleh kader posyandu.
"Ada anak usia 10 tahun berat badannya hanya 14 kilogram, tapi jangan hanya melihat gizinya saja, cari penyebabnya. Lihat kondisi keluarganya, pola asuhnya, sampai kemampuan ekonominya," kata Lis.
Ia menekankan, jika kader menemukan persoalan di luar kemampuan mereka, langkah selanjutnya adalah segera berkoordinasi dengan puskesmas atau perangkat daerah terkait. Tujuannya agar penanganan tidak terputus dan berjalan menyeluruh.
Lis juga menyoroti pentingnya pencatatan dan pelaporan. Data yang dihimpun posyandu, menurut dia, harus menjadi dasar evaluasi, bukan sekadar dokumen administrasi. Untuk itu, ia meminta Dinas Kesehatan Tanjungpinang menyiapkan aplikasi khusus guna memantau perkembangan setiap kasus secara berkala.
"Kasus demi kasus harus bisa dipantau, sehingga terlihat progres penanganannya," ucap Lis.
Ketua Tim Pembina Posyandu Kota Tanjungpinang, Yuniarni Pustoko Weni, menjelaskan transformasi ini mengikuti kebijakan nasional. Posyandu tidak lagi hanya fokus pada ibu dan anak, melainkan mencakup enam bidang pelayanan dasar.
Perubahan ini juga menggeser posisi posyandu dari bawah TP PKK menjadi mitra lintas organisasi perangkat daerah. Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas PUPR, Dinas Perkim, Dinas Sosial, hingga Satpol PP kini turut terlibat.
"Posyandu sekarang menjadi pelayanan dasar yang melibatkan banyak sektor, sehingga membutuhkan sinergi seluruh pihak," kata Weni.
Ia meminta para kader memanfaatkan bimtek sebagai bekal untuk mengenali persoalan paling mendesak di lingkungan masing-masing dan membawa solusinya kembali ke masyarakat.