KEPULAUAN RIAU — Akademi Film Amerika Serikat memperluas basis anggotanya ke seluruh dunia, dengan proporsi anggota di luar AS naik dari sekitar 5% menjadi 25% dalam satu dekade. CEO Academy Bill Kramer menyampaikan hal itu dalam panel Academy in Tokyo di Tokyo International Film Festival, didampingi Presiden Academy Lynette Howell Taylor dan Chief Membership, Impact and Industry Officer Meredith Shea. Festival tersebut juga menganugerahkan Global Cinema Leadership Special Award kepada Kramer.
Akademi mencatat sekitar 70 anggotanya berbasis di Jepang. Angka itu menjadi bagian dari perluasan keanggotaan yang menyasar negara-negara yang selama ini kurang terwakili dalam industri film global.
Kramer menyebut pergeseran komposisi anggota sebagai upaya membangun Academy yang lebih beragam dan inklusif. Satu dekade lalu, hanya 5% hingga 6% anggota yang berdomisili di luar Amerika Serikat.
"Sekarang 25%, dan angka itu terus bertumbuh," kata Kramer dalam panel yang dimoderatori Direktur Festival Hisamatsu Takeo.
Menurut Kramer, perubahan ini mengikuti cara orang membuat dan menonton film. "Orang membuat film di seluruh dunia, orang menonton film yang bukan bahasa aslinya makin sering," ujarnya. "Kami membuat film di mana-mana, kami menonton film dengan cara yang jauh lebih lincah dan mudah diakses, dan Academy harus mencerminkan itu."
Kramer menegaskan seluruh kategori di Oscar terakhir memiliki keterwakilan internasional, termasuk best picture. Ia merujuk kemenangan Parasite arahan Bong Joon Ho sebagai film berbahasa Korea pertama yang menyabet best picture pada 2020.
"Semua orang ingat momen ketika Parasite menang. Itu semacam titik balik, pergeseran cara kami memikirkan apa yang mungkin dicapai sinema global di Oscar, dan itu berlanjut," kata Kramer.
Howell Taylor menjelaskan proses rekrutmen anggota berjalan lewat tiga jalur: nominee Oscar yang otomatis diajukan, kandidat yang disponsori anggota aktif, dan komite Aperture di tiap cabang yang bertugas mencari pembuat film di berbagai negara.
"Setiap tahun kami punya fokus spesifik untuk negara-negara yang berpotensi kurang terwakili," ujarnya.
Dalam sesi tanya jawab dengan audiens, Howell Taylor menepis anggapan bahwa bertambahnya anggota global berarti penurunan kualifikasi. Ia menyebut keanggotaan sebelumnya lebih kecil justru karena jangkauan Academy belum seluas sekarang.
"Keanggotaan kami lebih kecil karena kami tidak begitu global, dan kami tidak mencari keunggulan pembuat film di luar AS sebesar sekarang," kata Howell Taylor.
Shea menambahkan, pengajuan film untuk pertimbangan Oscar tidak dipungut biaya di kategori apa pun. Lebih dari 200 penghargaan festival membuat film pendek otomatis memenuhi syarat, dan anggota dapat menonton kandidat lewat aplikasi Academy Screening Room.
"Itu komitmen kami terhadap sinema global, agar tidak ada yang merasa organisasi ini tertutup, bahwa ini cuma organisasi berbasis Los Angeles dan berpusat di Hollywood. Academy bersifat global dan menerima semua pembuat film," ujar Shea.
Langkah besar menuju audiens sedunia datang lewat pemindahan siaran Oscar ke YouTube. Kramer menyebut upacara penghargaan akan tersedia gratis bagi 2,5 miliar orang dalam lebih dari 30 bahasa mulai 2029.
"Untuk pertama kalinya, semua orang di seluruh dunia bisa mengakses acara ini pada waktu bersamaan dalam format yang sama. Itu langkah besar yang disengaja Academy untuk menjangkau audiens global lebih luas," kata Kramer.
Selama beberapa tahun terakhir, Academy menggelar kunjungan ke India, London, Rio, Morelia, Marrakech, dan Busan. Kramer menyebut Tokyo sebagai kunjungan resmi pertama Academy ke festival film tersebut, "tapi bukan yang terakhir".
Ditanya apakah Tokyo International Film Festival bisa masuk daftar enam festival yang hadiah utamanya kini memenuhi kualifikasi film untuk kategori international feature, Kramer membuka peluang itu.
"Kami ingin memperluas jumlah festival yang membantu film memenuhi kualifikasi kategori International Feature Film. Itu proses yang kami jalankan tahun ini, tunggu informasi selanjutnya," ujarnya.
Kramer menyebut enam festival pertama dipilih sebagian besar berdasarkan timing di kalender, dan Academy baru memulai pembicaraan perluasan. Howell Taylor menyatakan diskusi soal daftar tersebut "masih berlangsung saat ini".
Soal kemungkinan kategori international feature jadi redundan seiring mengglobalnya Academy, Kramer menjawab singkat. "Saat ini saya tidak melihat kategori itu menjadi redundan."
Di bidang animasi, Shea yang menangani kategori animated feature lebih dari satu dekade mencatat jumlah pengajuan naik dari 12 menjadi hampir 40, dengan sedikitnya enam judul anime setiap tahun. Kramer menilai Jepang punya sejarah panjang pembuatan film animasi yang mendalam.
Perluasan keanggotaan dan siaran gratis di YouTube menempatkan Oscar sebagai ajang yang bergerak menjauh dari pusat Hollywood, dengan penonton dan pembuat film di Asia, termasuk Indonesia, berpeluang lebih besar masuk radar Academy.