NATUNA — Antusiasme warga terlihat sejak pagi. Kegiatan dibuka dengan senam bersama pukul 07.00 WIB, dilanjutkan pembagian doorprize, sebelum lomba Ngael Cancang resmi dilepas.
Peserta yang mendaftar menembus angka 200 orang. Mereka datang dari berbagai kalangan, tidak hanya lelaki dewasa, tetapi juga perempuan dan anak-anak.
Bukan Sekadar Lomba Memancing
Dewan Pembina KPDN Muhammad Erimuddin menegaskan, Ngael Cancang merupakan tradisi masyarakat di sejumlah kampung di Natuna yang perlu terus dijaga. Menurut dia, tidak semua daerah memiliki tradisi serupa.
"Pertama, kegiatan ini untuk menjalin silaturahmi sesama masyarakat. Selain itu, kita juga ingin melestarikan budaya lokal. Tradisi Ngael Cancang ini masih lestari di kampung-kampung kita dan tidak semua daerah memiliki tradisi seperti ini," ujarnya.
Erimuddin menilai tingginya jumlah peserta menunjukkan memancing sambil berjalan masih diminati warga. Kegiatan itu juga menjadi pilihan mengisi waktu libur bersama keluarga.
"Pesertanya bukan hanya bapak-bapak atau laki-laki. Ada juga ibu-ibu, bahkan tadi saya melihat beberapa anak perempuan ikut berpartisipasi. Ini menunjukkan kegiatan seperti ini masih menjadi hobi masyarakat," katanya.
Juara Ditentukan Jumlah Tangkapan, Bukan Berat Ikan
Panitia menerapkan aturan tersendiri dalam penilaian. Setiap peserta wajib menyediakan umpan sendiri dengan jenis bebas, sementara ketentuan jenis ikan yang masuk penilaian ditetapkan panitia.
Pemenang tidak ditentukan dari berat atau ukuran ikan, melainkan jumlah tangkapan. Ikan selayang dan ikan buntal tidak masuk dalam perhitungan lomba.
"Dalam menentukan juara, ikan tidak ditimbang. Penilaiannya berdasarkan jumlah ikan yang didapat. Jadi, meskipun ikannya besar tetapi jumlahnya sedikit, belum tentu menjadi juara. Sebaliknya, peserta yang mendapatkan ikan lebih banyak sesuai ketentuan bisa berpeluang menang," jelas Erimuddin.
Harapan agar Tradisi Kampung Tak Putus
Melalui lomba ini, KPDN berharap Ngael Cancang tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi muda. Perlombaan di Pantai Piwang itu sekaligus memeriahkan HUT ke-27 Kabupaten Natuna.
Keberlangsungan tradisi masyarakat dinilai sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah. Pantai Piwang di Kecamatan Bunguran Timur menjadi lokasi yang mempertemukan warga dari berbagai kampung dalam satu agenda.