KEPULAUAN RIAU — PT Pertamina (Persero) tidak mengubah harga bahan bakar minyak di seluruh SPBU pada 1 November 2026, dengan Pertamax tetap Rp15.950 per liter dan Pertalite Rp10.000 per liter. Keputusan menahan harga berlaku untuk seluruh jenis BBM nonsubsidi maupun bersubsidi di wilayah Jabodetabek. Harga Pertamax tercatat tidak bergerak sejak 1 Agustus 2026, atau tiga bulan berturut-turut.
Penetapan harga mengacu pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022, yang mengubah Kepmen ESDM Nomor 62 K/12/MEM/2020. Aturan itu mengatur formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran BBM jenis bensin dan minyak solar yang disalurkan melalui SPBU.
Di wilayah Jabodetabek, Pertamax dibanderol Rp15.950 per liter. Angka itu tidak berubah sejak 1 Agustus 2026, sehingga harga produk RON 92 tersebut sudah bertahan tiga bulan.
Produk bensin nonsubsidi lain juga stagnan. Pertamax Green dijual Rp19.150 per liter, sementara Pertamax Turbo Rp19.600 per liter.
Untuk kelompok diesel nonsubsidi, Dexlite dipatok Rp23.700 per liter dan Pertamina Dex Rp25.200 per liter. Keduanya sama dengan posisi bulan sebelumnya.
Harga BBM bersubsidi dan penugasan tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar Rp6.800 per liter.
Pertalite dan Biosolar merupakan dua produk yang paling banyak dikonsumsi masyarakat. Pertalite menyasar kendaraan bermotor roda dua dan mobil pribadi, sedangkan Biosolar antara lain dipakai angkutan barang dan transportasi umum. Harga yang ditahan berarti biaya operasional harian konsumen tidak bertambah pada bulan ini.
Keputusan Pertamina menahan harga berlaku di tengah pergerakan harga minyak dunia yang menjadi salah satu variabel formula. Formula harga dasar dalam Kepmen ESDM mengaitkan harga jual eceran dengan perkembangan harga minyak dan nilai tukar, sehingga penyesuaian biasanya dilakukan secara berkala.
Namun, bahan tidak menyebutkan alasan resmi di balik keputusan mempertahankan harga bulan ini. Perseroan juga belum merinci apakah evaluasi harga akan dilakukan dalam waktu dekat atau menunggu periode berikutnya.
Bagi konsumen, stabilitas harga tiga bulan terakhir memberi kepastian anggaran bahan bakar. Bagi investor, kebijakan ini menjadi sinyal bahwa Pertamina memilih menjaga daya beli masyarakat ketimbang mengejar penyesuaian margin di segmen nonsubsidi.
Posisi harga Pertamax yang bertahan sejak Agustus 2026 menjadikan bulan ini periode terpanjang tanpa penyesuaian sepanjang kuartal IV. Pembaca yang hendak mengisi bahan bakar dapat memantau laman resmi Pertamina untuk memastikan harga di wilayah masing-masing, karena penetapan di luar Jabodetabek dapat berbeda mengikuti formula yang sama.