KEPULAUAN RIAU — Aprisindo mengungkapkan bahwa kebijakan tarif impor 10% yang diterapkan Amerika Serikat memang menambah tekanan bagi produsen alas kaki dalam negeri. Namun, asosiasi menilai dampaknya terhadap volume ekspor secara keseluruhan tidak separah yang dikhawatirkan banyak pihak. Faktor daya saing non-tarif, seperti kualitas produk dan efisiensi rantai pasok, masih menjadi keunggulan yang bisa dioptimalkan.
Faktor Penopang Daya Saing di Tengah Tekanan Tarif
Menurut Aprisindo, ada sejumlah elemen yang membuat produk alas kaki Indonesia tetap kompetitif di pasar AS meskipun tarif impor naik. Pertama, struktur biaya produksi di Indonesia masih relatif lebih rendah dibandingkan beberapa negara pesaing di kawasan. Kedua, hubungan dagang yang sudah lama terjalin dengan pembeli AS menciptakan loyalitas yang tidak mudah tergantikan oleh kebijakan tarif jangka pendek.
"Tarif 10% tentu memberatkan, tapi tidak serta-merta membuat produk kita tersingkir. Banyak buyer AS sudah memiliki komitmen jangka panjang dengan pabrikan Indonesia," demikian pernyataan pengurus Aprisindo dalam keterangan yang dikutip Kontan TV.
Tantangan dan Peluang yang Perlu Dicermati Pelaku Usaha
Kendati dampaknya dinilai tidak kritis, Aprisindo tetap mengingatkan bahwa margin keuntungan produsen akan tergerus jika tidak ada langkah efisiensi. Tantangan utama saat ini adalah fluktuasi biaya bahan baku dan logistik yang sudah tinggi sebelum tarif baru berlaku. Di sisi lain, kebijakan ini justru bisa menjadi momentum bagi industri untuk melakukan diversifikasi pasar ekspor ke kawasan non-tradisional seperti Timur Tengah dan Afrika.
- Efisiensi produksi: Pabrikan didorong mengadopsi teknologi otomatisasi untuk menekan biaya per unit.
- Diversifikasi pasar: Mengurangi ketergantungan pada AS dengan menjajaki peluang di Eropa dan Asia Selatan.
- Negosiasi insentif: Pemerintah diminta memberikan keringanan fiskal bagi eksportir yang terkena dampak tarif.
Prospek Ekspor dan Langkah Pemerintah ke Depan
Aprisindo memproyeksikan pertumbuhan ekspor alas kaki ke AS masih bisa terjaga di kisaran 3-5% tahun ini, lebih rendah dari pertumbuhan tahun lalu yang mencapai 7%. Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian disebut tengah mengkaji skema insentif bagi industri padat karya seperti alas kaki agar tidak terjadi PHK massal. Langkah diplomasi dagang juga terus ditempuh untuk membuka akses pasar baru dan memperkuat posisi tawar Indonesia dalam perjanjian perdagangan bilateral.
Bagi pelaku bisnis, situasi ini menuntut adaptasi cepat. Aprisindo menyarankan produsen untuk mulai merancang ulang strategi harga dan memperkuat hubungan dengan pembeli di luar AS sebagai langkah antisipatif. Prospek jangka panjang industri alas kaki nasional masih positif, asalkan rantai pasok domestik diperkuat dan ketergantungan pada satu pasar utama dikurangi secara bertahap.