KEPULAUAN RIAU — Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan surplus kumulatif ini lahir dari selisih positif komoditas nonmigas sebesar USD 14,16 miliar. Namun, sektor migas masih mencatat defisit USD 8,52 miliar selama periode yang sama.
"Hingga bulan April 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 5,64 miliar. Surplus sepanjang Januari-April 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas USD 14,16 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD 8,52 miliar," jelasnya, Selasa (2/6).
Ekspor Manufaktur Tumbuh 9,78 Persen, China Pasar Terbesar
Total ekspor Indonesia dalam empat bulan pertama tahun ini mencapai USD 92,15 miliar, naik 5,48 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama dengan nilai USD 75,57 miliar — melesat 9,78 persen.
China masih menjadi pasar utama ekspor nonmigas dengan nilai USD 22,76 miliar atau 25,93 persen dari total. Disusul Amerika Serikat (USD 10,17 miliar) dan India (USD 6,14 miliar). Ketiganya menguasai 44,52 persen pangsa ekspor nonmigas Indonesia.
Komoditas andalan ke China meliputi besi dan baja, nikel, serta bahan bakar mineral. Sementara ke AS, produk mesin elektrik, alas kaki, dan pakaian rajut mendominasi.
Impor Melonjak 13,4 Persen, Bahan Baku Mendominasi
Nilai impor kumulatif hingga April tercatat USD 86,51 miliar, naik 13,40 persen secara tahunan. Lonjakan terbesar terjadi pada barang modal yang tumbuh 19,02 persen, disusul barang konsumsi naik 15,68 persen.
Namun, bahan baku dan penolong masih mendominasi dengan nilai USD 61,82 miliar — tumbuh 11,67 persen. Ini menandakan aktivitas industri dalam negeri masih bergairah, meski ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri tetap tinggi.
China kembali menjadi pemasok utama nonmigas dengan nilai USD 30,79 miliar (41,84 persen). Diikuti Jepang dan Australia yang masing-masing USD 4,15 miliar. Kontribusi ketiga negara ini mencapai 53,12 persen dari total impor nonmigas.
Surplus 71 Bulan Beruntun, Tanda Daya Saing Terjaga
Sebelumnya, BPS melaporkan neraca dagang hingga Maret 2026 surplus USD 5,55 miliar (Rp 96,29 triliun). Dengan demikian, Indonesia telah mencatat surplus perdagangan selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut surplus tiga bulan pertama tahun ini ditopang surplus nonmigas USD 10,63 miliar, sementara migas defisit USD 5,08 miliar. Ekspor periode Januari-Maret mencapai USD 66,85 miliar, naik tipis 0,34 persen.
Rentetan surplus ini menjadi indikasi bahwa struktur ekspor Indonesia kian bertumpu pada produk manufaktur bernilai tambah. Namun, defisit migas yang terus terjadi mengingatkan bahwa ketahanan energi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.