KEPULAUAN RIAU — Video aksi ngamuk sopir Calya di Sunter viral di media sosial pekan ini. Dalam unggahan yang beredar, pemilik MINI Countryman menuturkan kronologinya: mobil Calya menyalip, lalu mengerem mendadak di depannya. Sopir Calya turun, berteriak menuduh korban menabrak, dan langsung merusak spion serta membengkokkan wiper mobil mewah tersebut.
"Dia ngamuk langsung ngebut mendahului saya, rem mendadak depan saya, lalu triak2 bilang saya nabrak dia. Saya yakin saya ga nabrak, mobil dia tidak ada penyok atau lecet sedikitpun," tulis korban dalam keterangan yang dikutip dari akun Instagram resmob_pmj.
Polisi memastikan motif pengrusakan murni karena emosi sesaat. "Tersangka mengaku kesal karena merasa tidak diberi jalan oleh korban," demikian pernyataan resmi Subdit Resmob Ditkreskrimum Polda Metro Jaya. Pelaku kini terancam pidana 2 tahun 6 bulan penjara.
Bukan Sekadar Emosi, Ada Pola Pengemudi LCGC?
Insiden ini bukan yang pertama. Beberapa kejadian serupa di jalanan Jakarta kerap melibatkan pengemudi mobil murah (LCGC) atau SUV bodi besar. Pakar keselamatan berkendara dari Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, punya pandangan.
“Ya sebenarnya ada level adab di penggunanya, walaupun nggak semua pengguna LCGC atau big SUV seperti itu. Yang pasti pengemudi di sini umumnya sumbu pendek jika punya masalah,” ujar Sony kepada tim redaksi.
Mengapa Pengemudi LCGC Sering Dikaitkan dengan Arogan?
Menurut Sony, stereotip ini muncul bukan tanpa alasan. Kombinasi harga mobil yang terjangkau, volume unit yang tinggi di jalan, dan karakter pengemudi yang cenderung agresif karena merasa “kecil” di antara kendaraan besar, menjadi pemicu. Namun ia menegaskan, generalisasi tidak tepat.
“Bukan mobilnya yang salah, tapi manusianya. LCGC hanya alat. Masalahnya ada di mental pengemudi yang gampang tersulut emosi,” tambah Sony.
Polisi mengimbau pengguna jalan untuk tetap tenang dan tidak main hakim sendiri. Video rekaman dashcam menjadi bukti vital dalam kasus seperti ini. Pelaku Calya kini harus berurusan dengan hukum karena tidak bisa mengendalikan amarah di jalan.