KEPULAUAN RIAU — Sebanyak 140 ayah di Kota Kupang kini rutin mengantar anak ke Posyandu untuk imunisasi, sebuah perubahan yang dimulai dari satu sesi informasi sederhana. Panduan ini membahas mengapa keterlibatan ayah dalam imunisasi penting, apa saja yang perlu diketahui soal jadwal imunisasi anak, dan bagaimana ibu bisa mengajak pasangan ikut berperan aktif.
Daniel Atawolo, seorang ayah empat anak di Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, kini rutin merapikan tas punggung putrinya yang berusia tiga tahun dan memastikan kartu imunisasinya tidak tertinggal. Setahun sebelumnya, ia tidak pernah membayangkan akan melakukan semua itu sendiri.
"Dulu, istri saya yang selalu membawa anak-anak kami ke fasilitas kesehatan," kata Daniel, seperti dikutip dari laman UNICEF. "Saya pikir tugas saya hanya mencari nafkah. Kesehatan anak adalah tanggung jawab istri saya."
Mengapa Banyak Ayah Masih Ragu Terlibat
Seperti banyak ayah lain di lingkungannya, Daniel tumbuh dengan anggapan bahwa pengasuhan anak dan pengambilan keputusan soal kesehatan adalah "urusan perempuan". Pandangan ini bukan hal langka di Indonesia.
Informasi soal imunisasi pun biasanya hanya beredar di kalangan ibu di Posyandu. Para ayah jarang mendapat akses langsung ke pengetahuan tentang jadwal imunisasi, pentingnya pemberian tepat waktu, hingga tanggung jawab bersama dalam pengasuhan.
Akibatnya, banyak ayah merasa canggung atau menganggap keterlibatan mereka tidak diperlukan. Padahal, dukungan ayah bisa meringankan beban ibu sekaligus memperkuat ikatan dalam keluarga.
Sesi Informasi yang Mengubah Cara Pandang
Perubahan Daniel dimulai ketika ia diundang mengikuti sesi informasi tentang hambatan gender dalam imunisasi, yang digelar tenaga kesehatan di Posyandu setempat. "Saya terkejut ketika menerima undangan itu," katanya sambil tersenyum. "Saya bertanya kepada kader, 'kenapa saya? Bukankah ini untuk para ibu?'"
Dalam sesi tersebut, untuk pertama kalinya Daniel dan para ayah lainnya mempelajari jadwal imunisasi anak, pentingnya imunisasi tepat waktu, serta tanggung jawab bersama antara ibu dan ayah. "Sebelumnya, saya tidak banyak mengetahui tentang imunisasi," ujarnya.
Sesi itu merupakan bagian dari inisiatif Keterlibatan Ayah dalam Imunisasi yang berjalan sejak 2024. Program ini digagas Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), PKK, dan organisasi keagamaan, dengan dukungan UNICEF.
Lebih dari 140 Ayah Jadi Champion Imunisasi
Dalam kurun lebih dari satu tahun, lebih dari 140 ayah di Kota Kupang telah menjadi ayah "percontohan" atau champion untuk imunisasi. Mereka mendukung imunisasi anak-anaknya sekaligus mengajak ayah lain di lingkungan sekitar.
Para champion ini menyampaikan informasi yang benar, membantu meluruskan kesalahpahaman, dan menjadi teladan positif. Mereka kerap berbagi pengalaman pribadi dalam mengatasi keraguan terhadap imunisasi.
Program ini juga memperkuat kapasitas tenaga kesehatan agar mampu mengenali dan mengatasi hambatan gender yang menghalangi keluarga mengakses layanan imunisasi. Posyandu didukung mengembangkan strategi lokal supaya pelayanan semakin inklusif dan mudah diakses.
Dampak Nyata di Rumah dan Lingkungan
Kini Daniel mendampingi istrinya ke Posyandu dan membantu memantau jadwal imunisasi anak-anak mereka. "Istri saya mengatakan bahwa ia merasa lebih didukung," ujarnya. "Ia punya lebih banyak waktu untuk beristirahat ketika saya membawa anak-anak ke Posyandu. Saya pun kini merasa lebih dekat dengan anak-anak."
Perubahan itu menular ke tetangga. "Awalnya mereka menggoda saya," kata Daniel sambil tertawa. "Mereka bertanya, 'Mengapa kamu mengerjakan tugas ibu?' Namun sekarang, semakin banyak ayah yang ikut terlibat."
Daniel terus mengajak ayah lain lewat percakapan santai dalam pertemuan warga. "Sekarang, bukan hanya saya yang membawa anak ke Posyandu. Banyak ayah lain juga datang, dan kami tidak lagi merasa malu," jelasnya.
Yang Bisa Ibu Lakukan untuk Mengajak Pasangan
Perubahan Daniel menunjukkan bahwa keterlibatan ayah bisa dimulai dari satu percakapan. Ibu bisa mengajak pasangan datang ke Posyandu bersama, terutama saat jadwal imunisasi anak.
- Bagikan informasi jadwal imunisasi anak kepada pasangan, bukan hanya menyimpannya sendiri.
- Ajak ayah hadir di sesi informasi Posyandu bila tersedia, karena materi yang sama sering belum pernah mereka dengar.
- Bagi tugas secara konkret, misalnya ayah yang mengantar dan ibu yang mencatat jadwal berikutnya.
- Beri apresiasi kecil ketika pasangan mulai terlibat, agar kebiasaan ini bertahan.
Kapan Perlu Konsultasi ke Tenaga Kesehatan
Jika anak terlewat jadwal imunisasi atau ibu dan ayah ragu soal jenis vaksin yang dibutuhkan, segera tanyakan ke bidan atau dokter di Puskesmas. Tenaga kesehatan di Posyandu juga bisa membantu menjelaskan jadwal yang sesuai usia anak.
Jangan menunda karena keraguan yang tidak terverifikasi. Informasi yang benar dari tenaga kesehatan adalah cara paling aman memastikan anak mendapat perlindungan imunisasi yang lengkap.
Keterlibatan ayah dalam imunisasi bukan sekadar membantu ibu, tetapi membangun keluarga yang lebih kuat dan anak yang lebih sehat. Seperti pesan Daniel kepada para ayah: "Mengasuh anak bukan hanya tugas ibu. Tanggung jawab itu harus kita bagi."