Pencarian

4 Penyebab Bayi Dismatur yang Perlu Mama Ketahui

Senin, 02 November 2026 • 09:08:01 WIB
4 Penyebab Bayi Dismatur yang Perlu Mama Ketahui
Ilustrasi bayi baru lahir dengan berat badan di bawah persentil ke-10 sesuai usia kehamilan atau dismatur.

KEPULAUAN RIAU — Bayi dismatur adalah kondisi ketika berat lahir berada di bawah persentil ke-10 pada kurva pertumbuhan sesuai usia kehamilan. Mengutip Pediatric Endocrine Society, kondisi ini disebut small for gestational age (SGA) dan bisa dipicu sejumlah faktor. Berikut empat penyebab yang perlu Mama pahami agar kehamilan bisa dipantau lebih siap.

Bagi sebagian ibu, kekhawatiran muncul saat dokter menyampaikan ukuran janin lebih kecil dari seharusnya ketika kontrol kehamilan. Pemahaman soal penyebabnya membantu Mama menyiapkan langkah pemantauan yang lebih tenang bersama tenaga kesehatan.

Apa Itu Bayi Dismatur (SGA)?

Dismatur atau small for gestational age (SGA) adalah istilah medis untuk bayi yang lahir dengan berat badan di bawah rata-rata bayi seusianya. Patokan yang dipakai adalah kurva pertumbuhan sesuai usia kehamilan dan jenis kelamin.

Bayi disebut SGA apabila berat lahirnya berada di bawah persentil ke-10 pada kurva tersebut. Kondisi ini berbeda dari bayi prematur, karena penilaiannya melihat berat badan relatif terhadap usia kehamilan, bukan semata usia kelahiran.

1. Faktor Plasenta yang Tidak Optimal

Plasenta berperan menyalurkan oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin. Jika fungsi plasenta tidak optimal, pasokan nutrisi bisa berkurang sehingga pertumbuhan janin melambat.

Gangguan plasenta menjadi salah satu penyebab yang perlu diwaspadai dalam pemantauan kehamilan. Karena itu, pemeriksaan rutin penting untuk melihat bagaimana pertumbuhan janin dari waktu ke waktu.

2. Kondisi Kesehatan Ibu Selama Hamil

Sejumlah kondisi kesehatan ibu dapat memengaruhi pertumbuhan janin. Riwayat tekanan darah tinggi, gangguan metabolik, atau infeksi tertentu termasuk hal yang biasanya diperiksa dokter selama kehamilan.

Nutrisi ibu juga berperan. Asupan makan yang tidak mencukupi kebutuhan kehamilan bisa berdampak pada pertumbuhan janin, sehingga pola makan sehat perlu dijaga sejak awal kehamilan.

3. Faktor Janin dan Kehamilan

Kehamilan kembar sering dikaitkan dengan berat lahir yang lebih rendah karena ruang dan pasokan nutrisi dibagi untuk lebih dari satu janin. Kelainan kromosom atau infeksi yang dialami janin juga dapat memengaruhi pertumbuhannya.

Faktor ini biasanya terdeteksi lewat pemeriksaan kehamilan berkala. USG dan pemantauan tumbuh kembang janin membantu dokter menilai apakah ada tanda yang perlu ditindaklanjuti.

4. Kebiasaan dan Gaya Hidup Ibu

Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan paparan zat berbahaya selama kehamilan termasuk faktor risiko yang dapat mengganggu pertumbuhan janin. Stres berat yang tidak tertangani juga perlu diperhatikan.

Menghentikan kebiasaan berisiko dan menjaga pola istirahat menjadi langkah pencegahan yang bisa dilakukan ibu. Diskusikan dengan dokter bila Mama merasa kesulitan mengubah kebiasaan tertentu.

Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter?

Jika dokter menyebut ukuran janin lebih kecil dari perkiraan, ikuti jadwal kontrol yang dianjurkan. Pemeriksaan lanjutan seperti USG dan pemantauan pertumbuhan membantu memastikan kondisi janin.

Segera hubungi tenaga kesehatan bila Mama mengalami perdarahan, nyeri perut hebat, gerakan janin berkurang, atau keluhan lain yang terasa tidak biasa. Deteksi dini membuat penanganan bisa dilakukan lebih cepat.

Memahami empat penyebab bayi dismatur membantu Mama menjalani kehamilan dengan pemantauan yang lebih siap. Jaga asupan nutrisi, hindari kebiasaan berisiko, dan rutin kontrol kehamilan agar pertumbuhan si kecil terpantau optimal.

Follow batamdaily.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: popmama.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks