KEPULAUAN RIAU — Kenaikan ini terutama dipicu oleh membengkaknya subsidi LPG tabung 3 kilogram dan listrik. Nota Keuangan yang menyertai rancangan APBN menyebutkan, angka tersebut masih dapat berubah selama pembahasan bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Subsidi LPG 3 Kg Melonjak 26,21 Persen, Listrik Naik ke Rp130,1 Triliun
Subsidi LPG 3 kilogram menjadi penyumbang kenaikan terbesar. Anggarannya melonjak dari Rp90,4 triliun menjadi Rp114,1 triliun, atau naik 26,21 persen. Pemerintah menargetkan volume penyaluran LPG bersubsidi mencapai 8,94 juta ton metrik pada 2027.
Perhitungan subsidi ini menggunakan acuan harga Saudi Aramco Contract Price (CP Aramco) yang menjadi patokan harga LPG impor. Pelemahan nilai tukar rupiah membuat biaya impor dalam dolar AS semakin mahal ketika dikonversi ke rupiah.
Di sektor kelistrikan, subsidi listrik dalam rancangan APBN 2027 naik 17,8 persen menjadi Rp130,1 triliun. Kenaikan ini dipicu oleh bertambahnya biaya penyediaan tenaga listrik dan meningkatnya konsumsi pelanggan bersubsidi.
Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group, Sana Ur Rehman, mengatakan lonjakan subsidi ini menunjukkan tekanan biaya yang terjadi bersamaan di berbagai sektor.
"Kenaikan 26,2% pada subsidi LPG 3 kilogram menunjukkan bagaimana beberapa tekanan biaya dapat masuk ke keuangan negara pada saat yang bersamaan. Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor yang berdenominasi dolar AS, CP Aramco memengaruhi harga pembelian LPG, sementara peningkatan distribusi memperbesar volume yang memperoleh subsidi," ujar Sana dalam keterangan tertulis, Kamis (27/8).
Rupiah Masih di Atas Asumsi, Harga Minyak Mulai Mereda
Rancangan APBN 2027 menggunakan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS. Namun, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah tercatat di level Rp17.856 per dolar AS pada 18 Agustus 2026. Posisi ini lebih lemah dari asumsi pemerintah.
Sebelumnya, rupiah sempat menyentuh level terendah Rp18.208 per dolar AS pada Juni 2026. Kondisi ini membuat pemerintah harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk membeli energi impor yang dihargai dalam dolar AS.
Sementara itu, tekanan dari harga minyak mulai berkurang. Indonesian Crude Price (ICP) turun dari US$117,31 per barel pada April menjadi US$81,68 per barel pada Juli. Meski demikian, harga tersebut masih berada di atas asumsi APBN 2027 yang dipatok US$75 per barel.
Transisi Energi Surya Jadi Andalan Tekan Belanja Subsidi
Pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 30 gigawatt serta penghentian pembangkit diesel dengan total kapasitas 13 gigawatt pada 2026. Program ini merupakan tahap awal transisi energi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor.
Presiden Prabowo menyebut program energi surya yang lebih luas, dengan kapasitas hingga 100 gigawatt, berpotensi menghasilkan penghematan sedikitnya Rp73,9 triliun per tahun melalui penurunan biaya produksi listrik. Namun, dampak penghematan tersebut baru akan terasa setelah proyek beroperasi penuh.
Bagi masyarakat yang selama ini menerima subsidi LPG 3 kilogram dan listrik, tidak ada perubahan mekanisme penyaluran dalam rancangan anggaran ini. Penerima tetap mengacu pada DTKS yang dikelola Kementerian Sosial. Informasi lengkap mengenai jadwal pencairan dan mekanisme penyaluran dapat diakses melalui kanal resmi Kementerian Keuangan dan Kementerian Sosial.