KEPULAUAN RIAU — Erling Haaland mencetak 19 gol dalam 18 laga Premier League sebelum Januari pada musim 2025/26, tapi hanya menambah 8 gol dalam 16 pertandingan setelahnya. Pola serupa terulang di setiap musim sejak ia bergabung dengan Manchester City, memicu pertanyaan soal penyebab di balik penurunan ketajaman striker Norwegia itu.
Data gol Haaland per musim memperlihatkan tren yang konsisten: laju golnya melambat begitu pergantian tahun. Pada musim 2024/25, ia mengemas 14 gol dalam 19 laga sebelum Januari, lalu hanya 8 gol dalam 16 laga hingga Mei. Musim berikutnya, 19 gol dalam 18 laga berubah menjadi 8 gol dalam 16 laga.
Dua Musim Terakhir Jadi Bukti Penurunan Paling Tajam
Dalam dua musim terakhir, Haaland hanya menambah delapan gol dari Januari hingga Mei. Angka itu jauh menurun dibanding musim perdananya bersama City, ketika ia mencetak 21 gol dalam 16 laga sebelum Januari dan menambah 14 gol dalam 22 laga hingga akhir musim.
Musim 2023/24 sebenarnya tidak memperlihatkan penurunan drastis secara angka: 14 gol dalam 15 laga sebelum Januari, lalu 13 gol dalam 16 laga setelahnya. Tapi di balik statistik itu, Haaland absen lima pertandingan pada Desember dan butuh waktu untuk kembali menemukan ritme.
Peran Rodri dan Kreativitas Lini Tengah Jadi Faktor Kunci
Analisis per musim menunjukkan satu benang merah: ketajaman Haaland sangat bergantung pada pasokan bola dari lini tengah. Pada musim 2022/23, ia dilayani Riyad Mahrez, Jack Grealish, Kevin De Bruyne, Phil Foden, dan Bernardo Silva, dengan Rodri sebagai jangkar di prime-nya.
Musim 2024/25 menjadi contoh paling jelas. Haaland mencetak sepuluh gol dalam lima laga pembuka, lalu hanya empat gol dalam empat belas laga berikutnya. Penyebab utamanya adalah cedera panjang Rodri yang absen sepanjang musim, memaksa Guardiola terus mengutak-atik komposisi dan membuat peluang untuk Haaland menyusut.
Haaland bukan tipe pemain kreatif. Ia adalah penyelesai yang mengubah peluang menjadi gol. Ketika pasokan bola terputus, produktivitasnya ikut anjlok.
Beban Bermain dan Kelelahan Ikut Berperan
Faktor fisik juga disebut sebagai penyebab. Pada musim 2024/25, City menjalani Club World Cup yang melelahkan di musim panas sebelumnya, dan Haaland sempat dicadangkan pada Februari karena Guardiola menilai ia kelelahan. Haaland sendiri mengeluhkan rasa lelah.
Musim 2025/26 memperlihatkan pola serupa. Setelah penampilan apik di awal musim, Haaland hanya mencetak tiga gol dalam tiga belas laga dari akhir Desember hingga pertengahan April. Guardiola saat itu sedang membangun ulang tim setelah kepergian Kyle Walker, De Bruyne, dan Ilkay Gundogan.
Ketajaman Haaland kembali muncul menjelang akhir musim seiring Rayan Cherki semakin menonjol. Ia mencetak lima gol dalam lima laga sebagai starter, dan City mulai menemukan performa terbaiknya di waktu yang tepat.
Kesimpulan: Haaland Butuh Tim Kreator di Sekitarnya
Rekor gol Haaland di Premier League menempatkannya sebagai salah satu penyerang paling produktif, dan ia berpotensi masuk daftar sepuluh pencetak gol terbanyak sepanjang masa kompetisi itu. Tapi data menunjukkan satu syarat mutlak: ia harus dikelilingi pemain kreatif yang cukup memasok bola.
Penurunan setelah Januari bukan sekadar soal kelelahan. Ini soal istirahat yang cukup, kebugaran, dan yang terpenting, komponen di sekitarnya yang mampu menciptakan peluang. Selama pasokan itu terjaga, ketajaman Haaland akan tetap terjaga.